PEMUKIMAN TERAPUNG SUKU BAJAO, KEINDAHAN WISATA TERSENDIRI

0
141

Desa Kabalutan tampak dari lautan. Dengan sedikit daratan warga suku Bajao bisa membuka pemukiman.(f-abdee mari)Puluhan bahkan ratusan gugusan batu karang di seluruh pulau di Togean, memang sudah dikenal hingga ke seluruh pelosok dunia. Tapi salah satu keindahan lain di kepulauan Togean adalah adanya pemukiman terapung di atas laut yang dihuni oleh suku Bajao.

Bukan suku Bajao namanya jika tidak bisa mengalahkan lautan luas. Suku yang nenek moyangnya berasal dari negara Vietnam itu, juga menghuni lautan kepulauan Togean. Jika melakukan perjalanan dengan menggunakan kapal laut atau speed boat menyusuri selat-selat diantara pulau-pulau kecil dan pulau besar di kepulauan Togean, pemandangan mengagumkan yakni jajaran rumah-rumah yang tertata rapi mengapung di atas laut, akan tampak dimata kita. Pemukiman itu tidak lain dihuni oleh suku Bajao. Dari sekian banyak pemukiman ada, salah satu pemukiman suku pelaut ini yang paling menonjol dan sangat padat adalah Desa Kabalutan.

Desa yang terletak di wilayah kecamatan Walea Kepulauan Kabupaten Tojo Unauna itu, dihuni oleh 2017 jiwa. Dari dulu hingga kini, warga desa  itu menjadikan laut sebagai sumber mata pencaharian utama. Bahkan, rumah tempat tinggal mereka pun berada di atas laut. Bahkan, kebiasan mereka sebagai pelaut itu juga tampak di rumah mereka. Di hampir seluruh warga Desa Kabalutan, memiliki keramba yang letaknya di bawah kolong rumah yang berfungsi untuk mengembangbiakkan ikan.

Ikan-ikan itu kebanyakan bukan untuk dijadikan lauk, tetapi dijadikan sebagai salah satu penghibur hati pemiliknya. Setiap pagi, pemilik keramba  memberi makan ikan-ikannya hingga kenyang. Ikan yang oleh penduduk setempat disebut ikan Bobara, panjangnya bisa sampai setengah meter dan itu terus dipelihara di dalam keramba dibawah kolong rumah mereka.

Warga desa itu juga dikenal sangat ramah. Mungkin karena sangat kurang bertemu dengan warga dari luar, setiap tamu yang datang ke desa itu selalu disambut dengan baik. Meski demikian, penduduk desa itu masih sangat teguh dengan hukum adat yang berlaku didesa tersebut. Salah satunya diistilahkan ‘Bakubik’. Hukum adat Bakubik itu berlaku bagi muda-mudi yang kedapatan berpacaran hingga larut malam.

Jika kedapatan sedang berdua-duaan di tempat-tempat gelap, oleh kepala desa setempat diberi dua pilihan, yakni kawin atau mengumpulkan batu karang sebanyak beberapa kubik. Bukan hanya itu, jika sudah menikah dan tidak bisa melaut untuk menghidupi keluarganya, hukuman ‘Bakubik’ batu karang itu juga akan dikenakan padanya, khususnya bagi sang laki-laki.

Karena sangat tergantung dengan laut, bayi yang baru lahir pun harus diperkenalkan dengan laut. Maka tidak heran kalau  anak yang berusia 7 tahun pun sudah pandai berenang, menyelam, mendayung perahu dan mencari ikan.

Rumah warga pun dibangun di atas laut. Konstruksinya hanya dari kayu dan beberapa tiang penyangga ditanam ke dasar laut yang dangkal. Dalam satu rumah, biasanya dihuni antara 3 sampai empat kepala rumah tangga.

Untuk menopang ekonomi warga, mereka tidak hanya sekadar memancing ikan untuk dijual ke pasar, tapi mereka juga membudidayakan ikan kualitas ekspor seperi kerapu, sunu, napoleon dan beberapa jenis ikan lainnya. Untuk pembudidayaan itu pun, warga tak perlu susah-susah, karena mereka tinggal memasang jaring (keramba) di kolong rumah masing-masing.

Nur Irma, ibu rumah tangga di desa itu mengatakan, pembeli ikan di keramba itu biasanya datang dari Palu, Gorontalo, Manado dan Kalimantan. Harga ikan yang dijual perkilogramnya berkisar antara  Rp 150 ribu sampai Rp 350 ribu, bahkan jutaan rupiah, tergantung jenis ikannya.

Olehnya, jika anda ingin berwisata di kepulauan Togean, tidak afdol rasanya jika tidak mengunjungi pemukiman suku Bajao. Karena, objek wisata yang dimiliki oleh kepulauan itu bukan hanya terumbu karang, tetapi juga pemukiman suku Bajao, dan masih banyak lagi. Itulah salah satu kebesar Tuhan yang harusnya kita syukuri. (abdee mari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here