PARIWISATA TOGEAN YANG KURANG PROMOSI

0
155

Salah satu sudut keindahan kepuluan Togean. (f-abdee mari)Sekali lagi, keindahan Togean memang tak cukup hanya dikagumi dengan decakan, tetapi juga nyaris seluruh pujian untuk keindahan alamnya, wajar keluar dari mulut wisatawan. Sayangnya, keindahan Togean  nyaris tidak banyak dikenal di Indonesia bahkan oleh turis manca negara karena kurangnya promosi. Berikut catatan terakhirnya.

Sejumlah tempat wisata di kepulaua Togean, sejak awal tahun lalu tampak sepi dari kunjungan wisatawan. Di sejumlah resort di kepualauan yang dijuluki ‘Surga Bawah Laut’ itu, terlihat hanya ada beberapa wisatawan asing berjemur bahkan diving. Di Black Marlin Dive Center Pulau Kadidiri misalnya, selama bulan Mei hingga Juni kemarin hanya memiliki sekitar 10 orang wisatawan. Bahkan, diperkirakan akan menurun.

Jhon Pahantua, salah seorang petugas di Black Marlin Dive Center  mengatakan, jika di luar musim libur, dalam sebulan hanya terdapat  antara 15 sampai 17 orang yang datang dan menginap berhari-hari. Sedangkan kalau pada musim libur seperti bulan Agustus dan September, rata-rata pengunjung berjumlah 30 sampai-60 orang.  ‘’Biasanya wisatawan paling banyak berkunjung ke Togean sekitar bulan Agustus dan September, tapi kadang juga di bulan itu kurang wisatawan yang datang,’’ kata Jhon.

Rata-rata tarif untuk diving dan snorkeling di tempat itu, telah ditetapkan antara $25 Amerika hingga US$650 tergantung lamanya tamu melakukan diving. Sedangkan biaya menginap  di setiap cottage berkisar antara Rp75 ribu hingga Rp110 ribu per malam sesuai jenis kamar yang di tempati.

Hampir semua resort di Kepulauan Togean dibuka untuk umum. Hanya satu resort saja yang sangat terbatas dan tertutup, yakni resort di Tanjung Kramat. Resort ini milik Mr. Luca Gracia, warga berkebangsaan Italia. Bagi warga lokal, jangankan masuk ke kawasan itu, mendekat saja sudah sangat susah.

“Saya sangat menikmati berlibur di Kepulauan Togean ini. Terumbu karangnya sangat baik terpelihara,  ikan hias di dasar lautnya berwarna-warni dan sunsetnya sangat indah. Sungguh sangat  indah.  Mungkin ini surga bagi saya dan saya tidak dapatkan  pemandangan ini di negara saya,” kata Jana (29), salah seorang wisatawan  asal Switzerland yang ditemui beberap waktu lalu.
Saat ditemui di Fadillah Cottage, salah satu resort milik warga lokal Desa Katupat, Jana bersama enam wisatawan  berbagai negara lainnya sedang berjemur sambil membaca buku, sedangkan yang lainnya masih asyik snorkeling  menikmati indahnya warna-warni ikan hias.

Bupati Tojo Una-Una Damsyik Ladjalani mengatakan, pemilik resort itu hanya dibuka untuk para wisatawan asing, dan rata-rata mereka berasal dari Italia. “Mau masuk ke situ saja harus berdasi. Memancing di situ pun dilarang. Pokoknya sangat eksklusif,” kata Damsyik, beberapa waktu lalu.

Kepulauan Togean memang sangat menarik.  Conservation International (CI)  Indonesia dalam web-sitenya melaporkan, Kepulauan Togean adalah rangkaian pulau-pulau di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah yang merupakan bagian hotspot Walacea.  Luas lautan dan daratannya sekitar 600.000 hektar. Secara global, daerah ini sangat penting, karena termasuk di dalam segitiga terumbu karang dunia (Coral Triangle), yaitu area dengan keanekaragaman terumbu karang yang tinggi.

Kawasan  perairan Kepulauan Togean merupakan habitat dari berbagai biota laut dan berpotensi untuk wisata alam bawah laut. Di wilayah itu ditemukan  262 jenis terumbu karang, diantaranya endemik (Acropoda togeanensis), 596 jenis ikan di antaranya endemik (Paracheilinus togeanensis dan Ecsenius sp.) 555 moluska serta jenis langka lainnya seperti Kima Raksasa (Tridacna gigas), Kima Sisik (Tridacna squamosa).

Lantaran banyak habitat biota laut dan darat inilah sehingga menarik bagi wisatawan, ilmuwan, poeneliti dan LSM untuk mengunjungi kawasan ini.

FX Sriyadi Adhisumarta, Litbang salah satu harian nasional dalam jurnalnya pernah menulis tulisan ‘THE Untouched Paradise’ atau Alam yang masih perawan. Kalimat tersebut merupakan penggalan kalimat yang keluar dari mulut seorang wisatawan mancanegara ketika berperahu motor dari Pelabuhan Wakai di Pulau Togean ke Pulau Kadidiri. Sebuah pulau kecil berpasir putih, terletak di tengah-tengah Teluk Tomini.

TELUK Tomini yang kaya akan potensi laut dan indah panoramanya itu merupakan bagian wilayah dari 13 kabupaten meliputi Provinsi Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah. Di tengah-tengahnya terdapat sekitar 56 rangkaian kepulauan, dikenal dengan Kepulauan Togean. Untaian kepulauan ini membentang hingga 90 kilometer panjangnya.

Enam pulau di antaranya termasuk berukuran besar, yaitu Unauna, Batulada, Togean, dan Talatakoh, yang terletak di sebelah barat. Sedangkan Waleakodi dan Waleabahi berada di gugus timur kepulauan ini. Sisanya merupakan pulau-pulau kecil yang merupakan pulau-pulau satelit yang tersebar mengelilingi keenam pulau besar yang ada.

Kepulauan tersebut terbagi menjadi tiga kecamatan, yaitu Unauna, Togean, dan Walea Kepulauan, yang masuk wilayah administratif Kabupaten Tojo Unauna, pemekaran dari Kabupaten Poso berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003.

Bagi Tojo Unauna, Kepulauan Togean merupakan modal dan gantungan harapan untuk menjadi tulang punggung perekonomian di bidang pariwisata. Pulau-pulau kecil menawan yang tidak berpenghuni, dikelilingi air laut jernih yang menampilkan keindahan terumbu karang dan biota laut, sejak lama sudah dikenal wisatawan asing.

Pada tahun 1999 sekitar 8.000 wisatawan mancanegara (wisman) mengunjungi wilayah di tengah Teluk Tomini ini. Setiap bulannya sekitar 665 turis asing menginjakkan kaki di sana . Namun dari tahun ke tahun, jumlah turis itu berkurang dan kini setiap bulannya hanya berkisar puluhan orang saja. Itu menurut pemkab Tojo Unauna, dikarenakan kurangnya promosi ke luar daerah dan luar negeri. Padahal, ada beberapa web site yang khusus memuat tentang Togean. Namun itu belum cukup.(abdee mari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here