Devensife

Kata ini sedemikian populer akhir-akhir ini. Berbagai argumentasi pun meminjam istilah Bahasa Inggris itu pada beberapa kejadian yang mendera bangsa ini. Dalam kamus Bahasa Inggris yang dikreasi Hasan Sadili dan John M Echols, “defensive” adalah kata sifat yang diartikan sebagai suatu upaya pertahanan, atau bertahan. Istilah ini umumnya digunakan ketika peperangan. Namun, penggunaannya kini menjadi populer ketika digunakan dalam argumentasi saat diskusi-diskusi di televisi yang membahas masalah politik dan kejadian penting lainnya.

Sebut saja ketika Malaysia memposisikan diri dalam kondisi yang “defensive” saat melawan Tim Garuda di laga kedua pada babak final piala AFF 2010 di stadiun Gelora Bung Karno. Atau kemudian kata itu (defensive) kembali muncul ketika SBY sebagai pemerintah menunjukkan sikap seperti Timnas Malaysia, saat pemerintahannya dituduh melakukan kebohongan.

Meminjam kata seorang intelektual muda, Yudi Latif, bahwa diskusi terbatas dan tertutup yang digagas pemerintah dalam menanggapi pernyataan tokoh-tokoh agama soal kebohongan pemerintah pada pertengahan Januari 2011, merupakan sikap “difensive” yang dilakukan pemerintah (SBY).

Sama halnya ketika sosok (yang dianggap tokoh Sulawesi Tengah) kembali bertarung pada pencalonan gubernur di daerah ini pada 6 April 2011. Ia juga seolah menunjukkan sikap “defensive”. Ketika banyak pihak, mulai dari kalangan akademisi hingga masyarakat biasa, menganggapnya sebagai pemimpin yang seolah tak mau dipimpin.

Dari gubernur menjadi calon wakil gubernur. Itulah yang ditunjukan tokoh ini dalam fenomena politik daerah kita akhir-akhir ini. Saya kemudian tersentak dengan SMS yang dikirimkan seorang dosen yang dikenal idealis dari salah satu perguruan tinggi di ibu kota provinsi ini. Dalam SMS itu ia menggambarkan rasa ketidakpercayaannya kepada sang tokoh yang ingin maju lagi di gelanggang demokrasi nanti.

Ia pun merasa bertanggungjawab atas kurangnya tokoh muda (kader dari kampus) yang tak mau tampil. Meski dalam barisan terakhir dari SMS itu disebutkan ; “Jangan percaya kalau Sulteng ditakdirkan sebagai daerah tertinggal”.

Bukan hanya itu, beberapa diskusi dengan rekan-rekan jurnalis dan para tokoh pemuda di kota ini, saya menemukan pendapat yang sama. Ada semacam pelanggaran etik politik yang dilakukan oleh sang tokoh. Persis seperti itu bahasa yang mereka lontarkan. Walau sedikit malu-malu, beberapa pejabat daerah di bawah pimpinan sang sang tokoh juga mungangkapkan bahasa senada. “Kok mau-maunya menjadi wakil. Tapi itu kan pilihan,” begitu kata mereka.

Saya pun kemudian mencoba menyela waktu sang tokoh, saat berkunjung dan meresmikan sebuah gedung rumah sakit di bagian utara kota ini. Saya berlaku berani untuk bertanya apa sebenarnya motivasi sang tokoh untuk kembali maju.

“Ada program yang menurut saya dan masyarakat belum selesai, dan harus dilanjutkan. Ini sebenarnya semacam akumulasi, ada dorongan dari masyarakat. Saya juga memonitoring itu. Kemudian dari generasi muda sendiri, mau berpasangan dengan saya agar bisa mendokrak perolehan suaranya. Generasi muda ini mengaku kurang ‘PD’ kalau tidak didampingi, dan bersama saya kemungkinan akan lebih meyakinkan untuk mendongkrak suara. Lagi pula kan tak ada aturan yang saya langgar,” begitu kata sang tokoh.

Hmmm… Setelah mendengarkan pernyataan itu, saya kemudian berpikir berulang-ulang. Apakah bahasa sang tokoh ini adalah semacam ungkapan “defensive”? Atau kemudian bahasa ini yang seakan-akan berdasar fakta dan dikemas secara politis? atau? Tapi sudahlah, tak baik jika kita menduga-duga.

Tapi, umpamanya saya berposisi sebagai sang tokoh, mending menjadi tokoh yang sebenar-benarya tokoh. Menghabiskan masa pensiun di usia senja dengan banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT, berbagi lebih dekat dengan masyarakat, dan menyaksikan terobosan-terobosan yang dilakonkan para pemimpin muda di atas kursi goyang di depan televisi atau melalui berita-berita koran. (Syahril)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here