POLISI ANIAYA WARGA, CORENG INSTITUSI KEPOLISIAN

 

PALU, (21/8) – Tindakan penganiayaan  yang dilakukan oknum aparat kepolisian, mengundang perhatian serius dari Kapolda Sulteng, Brigjend Pol Muhammad Amin Saleh.

Orang nomor 1 di korps Bhayangkara Sulteng itu, berjanji, akan mengusut dugaan penganiayaan yang dilakukan Kanit Buser Polsek Palu Barat berinisial Bripka UM terhadap warga bernama Muhammad Susuf (26), Senin (16/8).

Kapolda menegaskan, tidak seharusnya anggota Polri melakukan penganiayaan terhadap warga, apalagi di luar tugas dan wewenangnya sebagai penegak hukum.

“Ini adalah tindakan yang dapat mencoreng nama baik institusi kepolisian,”kata Kapolda Amin Saleh kepada wartawan, Jumat (20/8).

Terkait kasus tersebut, Kapolda Amin Saleh telah memerintahkan pejabat Bidang Propam Polda untuk menangani kasus tersebut secara profesional dan sesuai dengan ketetapan yang berlaku.

Bila dalam pemeriksaan oknum polisi berpangkat Bripka tersebut terbukti melakukan tindakan penganiyayaan, Kapolda Amin Saleh berjanji akan mengambil tindakan tegas sesuai dengan aturan yang berlaku di institusi Polri.

“Tidak ada toleransi bagi anggota yang telah menyakiti masyarakat, tugas kita adalah pelindung masyarakat,” tegas Kapolda Amin.

Sementara korban Yusuf membantah isu bahwa kasus tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan antara pelaku dengan dirinya.

“Ini kasus kekerasan, harus diselesaikan melalui jalur hukum,saya khawatir akan ada korban berikutnya”ungkap Yusuf kepada wartawan.

Selain itu korban Yusuf juga meminta kepada pihak Polda, untuk menyelesaikan kasus tersebut secara objektif dan transparansi serta tidak memandang latar belakang pelaku.

Kasus ini terungkap setelah korban bernama Muhammad Yusuf (26), karyawan perusahaan otobus (PO) Tenaga Selamat, Jl. WR Supratman, Kelurahan Kamonji, mendatangi Mapolda Sulteng untuk melaporkan penganiayaan tersebut.

Korban Yusuf kepada wartawan di tempat kerjanya, Kamis, menceritakan, penganiayaan itu pada Senin (16/8) malam sekitar pukul 22.00 Wita.
Saat itu ia sedang mencatat data penumpang yang akan menggunakan jasa angkutan, tiba-tiba seorang rekannya berinisial BT menawarkan nama seorang calon penumpang kepada korban.

Korban pun segera menerima tawaran itu dan mencatat nama calon penumpang dimaksud.
“Siapapun yang datang dan ingin menggunakan jasa angkutan di sini pasti kami layani,” ujar Yusuf.

Mungkin karena merasa tersaingi dan memiliki kepentingan bisnis di PO Rappang Marannu, kata Yusuf, Bripka UM mendatangi PO Tenaga Selamat yang berlokasi sekitar 100 meter dari PO Rappang Sidenreng.

Bripka UM tidak bertemu korban, saat itu ia tengah berada di kamar kecil. Namun korban kemudian pergi menemui pelaku di lokasi PO Rappang Marannu untuk membicarakan kesalahpamahaman itu dengan Bripka UM.(BP015/005)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here