Napi terorisme di Palu ikut pelatihan manajemen konflik

0
140

PALU – Sejumlah narapidana terorisme di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II Petobo Palu, dipastikan akan mengikuti sebuah pelatihan. Menariknya, pelatihan itu menyangkut bagaimana memenej sebuah konflik. Pelatihan ini akan digelar tanggal 12-16 Juli 2010.

Pelatihan yang akan digelar di Lapas kelas II Petobo Palu itu, digelar oleh Search for Common Ground (SFCG) Indonesia bekerjasama dengan Direktorat Jendral Pemasyarakatan, Departemen Hukum dan HAM (Ditjen PAS), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP).

Agus Hadi Nahrowi, Senior Program Officer Search for Common Ground, dalam realese-nya mengatakan, pelatihan terhadap terpidana kasus terorisme ini bukan hanya dilakukan di Palu. Sejumlah lapas di Indonesia juga melakukan hal yang sama. Lapas itu diantaranya  Lapas Cipinang, Porong, Nusakambangan (Batu dan Permisan), Palembang, Tangerang Semarang.

“Di Palu sendiri terdapat 25 napi yang ikut, yakni terpidana terorisme, pelaku tindak pidana kekerasan dan non kekerasan. Pelatihan yang berlangsung selama 5 hari ini dibagi dalam dua kelas yaitu, Kelas untuk petugas Lapas, dan Kelas untuk Warga Binaan, dengan tema Manajemen Konflik (Conflict Management Training–CMT) untuk Pemasyarakatan,’’ jelas Agus.

Pelatihan ini bertujuan mengelola emosi dan amarah, kemampuan berkomunikasi,  kemampuan bernegosiasi, kemampuan melakukan mediasi, mengelola konflik secara konstruktif, kemampuan berempati, berpikir positif, menghargai pandangan dan pendapat orang lain.

“Baik di dalam lapas maupun di masyarakat, kemampuan-kemampuan tersebut diperlukan untuk mencegah dan menangani terjadinya tindakan dan atau perilaku yang mengarah pada penggunaan cara-cara kekerasan dalam  menghadapi, dan menyelesaikan/menangani masalah,’’ jelasnya.

Melalui pelatihan ini diharapkan para peserta akan memiliki pengetahuan, kesadaran/perilaku dan keterampilan untuk mengelola konflik secara konstruktif/non kekerasan, menempuh cara-cara positif dalam menyelesaikan masalah, dan tetap menghargai dan menghormati orang lain dalam situasi konflik, maupun ketika sedang membantu orang lain menyelesaikan konflik. Selain itu, diharapkan setelah mengikuti pelatihan ini, tingkat rasa percaya diri para peserta akan meningkat, khususnya dalam menghadapi dan menyelesaikan konflik, baik di dalam dirinya, maupun dengan orang lain. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here