Album Tana Poso Diluncurkan

0
86

POSO, beritapalu | Ratusan orang, kebanyakan anak muda memadati aula Dodoha Mosintuwu di Tentena, Rabu (14/2) malam. Kehadiran mereka untuk menyaksikan peluncuran album musik Tana Poso, berisi 6 lagu daerah yang dimainkan 3 grup band yakni Sintuwu Akustik, Watumpoga’a Band dan STT Ue Puro Band. Aula yang mampu menampung 200 orang pengunjung itu nyaris terisi penuh.

Sintuwu Akustik saat tampil dalam peluncuran album Tana Poso di aula Dodoha Mosintuwu Tentena, Rabu (14/2/2018). Ratusan orang menghadiri acara ini. (Foto: Ist)

Terdapat 6 lagu dalam album yang diproduseri oleh Institut Mosintuwu ini, yakni Inanco, Waya Masapi, Matiandano, Yondo Pamona, Lipu Mpeari dan Isua Tempo. Lagu-lagu ini diaransemen ulang oleh para musisi muda ini kemudian direkam di studio rekaman di kota Palu.

Yenny Tarau, koordinator program pemuda di Institut Mosintuwu mengatakan, peluncuran album Tana Poso ini merupakan bagian dari upaya untuk memberikan ruang kepada anak-anak muda di kabupaten Poso untuk berkreatifitas mengembangkan diri mereka.

Budayawan Poso, Yustinus Hokey yang hadir dalam acara itu mengatakan, upaya membangun generasi muda yang lebih baik dan terbuka memerlukan ruang untuk mengekspresikan diri. Dia mengapresiasi upaya Institut Mosintuwu merangkul anak-anak muda lewat seni.

Dalam album yang berisi lagu-lagu tentang keayaan alam Poso ini, masing-masing grup band memainkan 2 lagu. Sintuwu Akustik yang diagawangi Edgar (gitar) Leon Patambo (Rythim), Jovan (Perkusi), Josua (bass) dan Bella Lumentut (vokal) menyanyikan lagu gubahan Yustinus Hokey berjudul Waya Masapi dan Inanco.

Lagu Waya Masapi bercerita tentang cara orang Poso menangkap Sidat dimulut danau Poso. Adapun Watumpoga’a, menyanyikan lagu Matia Ndano dan Yondo Pamona. Band beraliran pop rock ini sengaja memilih Yondo Pamona yang dalam bahasa Indonesia berarti Jembatan Pamona, salah satu bangunan ikonik di kota wisata Tentena, jembatan yang dibangun menggunakan kayu sejak awal tahun 1930 an ini membentang lebih dari 200 meter diatas mulut danau Poso. Hingga saat ini jembatan Pamona masih berdiri kokoh.

Tidak mudah bagi Melsi (vokal), Ronald (bass) On (Lead Guitar) Ricardo (Rhytim) dan Ronald(Drum) menyalurkan bakat musik mereka. Awalnya banyak orang termasuk keluarga menganggap bermain musik hanya menghabiskan waktu saja, namun mereka mampu mematahkan pendapat itu dengan hadirnya album Tana Poso ini. Bermusik bagi anak-anak Watumpogaa Band juga sarana menghindarkan mereka dari pengaruh buruk narkoba dan tren balapan liar disebagian anak-anak muda lainnya. Nama watumpoga’a sendiri tidak asal comot, ini adalah sebuah situs sejarah yang menunjukkan asal usul orang Poso sebelum kemudian terpisah ke berbagai penjuru.

“Kita sebenarnya berasal dari rumpun yang sama, jadi disini kami terkumpul kembali untuk bersama”kata Melsi mengenai alasan pemilihan nama band mereka. Adapun band ketiga yang hadir di album ini adalah STT  Ue Puro, 5 personil band ini adalah mahasiswa yang berasal kampus STT GKST Tentena dan Unkrit  serta 2 orang lagi adalah guru SD. Kalau dihitung-hitung, STT Ue Puro bukanlah band baru, mereka pernah menjuarai beberapa festival diluar kabupaten Poso seperti di kabupaten Tojo Una-Una dan Morowali Utara, meski berlatar pendidikan religi, mereka tidak hanya jago memainkan lagu-lagu rohani, musik mereka justru banyak dipengaruhi oleh Blink 182 super grup beraliran Pop Punk asal Amerika Serikat yang terkenal dengan lagu Adam’s Song.

Di album kompilasi ini STT Ue Puro Band yang digawangi Melvin (guitar) Jhony (guitar), Hilfrans (bass), Ferdi (cajon) dan Puput (vokal) menyanyikan lagu Lipu Mpeari dan satu lagu berbahasa Mori, Isua Tempo. Kedua lagi ini bercerita tentang kerinduan terhadap tanah kelahiran yang dialami oleh mereka yang merantau.

Beberapa penonton yang hadir, saat ditanyai mengatakan, munculnya album tana Poso ini membuat mereka terinspirasi untuk membuat karya yang bukan hanya bisa membantu mengkampanyekan kedunia luar bahwa selain indah, Poso punya banyak talenta.

“Bikin karya, supaya orang luar tahu kalau Poso indah, Poso bukan tempat untuk orang berkelahi”kata Ikhal (16) yang datang menyaksikan peluncuran album tana Poso.

Yustinus Hokey, mengatakan, pendekatan lewat seni kepada anak-anak muda seperti yang dilakukan Mosintuwu adalah contoh diplomasi bagaimana kebudayaan dipertahankan sekaligus mengajak mereka untuk berbuat positif tanpa menggurui.

Album kompilasi ini bermula ketika Sintuwu Akustik, STT Ue Puro dan Watumpogaa Band, pada tahun lalu mengikuti Festival Hasil Bumi di Tentena. Setelah festival inilah kemudian lagu-lagu yang mereka membuat konsep album yang kemudian direkam secara profesional di studio Pataba di kota Palu.

Yeni Tarau berharap, kehadiran grup band dengan album mereka bisa menginspirasi anak-anak muda lainnya untuk melahirkan karya-karya yang memberi manfaat bagi orang banyak. (wan/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.