Tak Dukung Kelistrikan, Anggota DPRD Sulteng Tuding Perusahaan Sawit Mirip Belanda

0
83
Ilustrasi

PALU, beritapalu.NET | Wakil Ketua Komisi III DPRD Sulteng, Muh. Masykur memprotes keras perusahaan kelapa sawit yakni PT. Pasangkayu dan PT Mamuang  yang dinilai tidak memiliki itikad baik dalam mendukung listrik bagi masyarakat di Kecamatan Riopakava  Kabupaten Donggala.

“Itu perusahaan masih Indonesia atau Belanda, wataknya kok kayak penjajah. Masa listrik untuk rakyat dihalang-halangi,” kata Masykur kepada beritapalu.NET.

Kekesalan Masykur itu dikarenakan PT. PLN Cabang Palu sedianya sudah akan meresmikan listrik menerangi Kecamatan Riopakava di tahun ini namun masih terhambat dengan jaringan listrik yang melewati areal perkebunan kelapa sawit. Menurutnya masih ada sekitar 100 pohon kelapa sawit yang harusnya ditebang agar tidak mengganggu pemasangan jaringan instalasi listrik.

Namun hingga kini program dari pemeritah ini tetap saja diindahkan oleh pihak perusahaan. PT PLN Cabang Palu sudah melakukan langkah-langkah dengan berkoodinasi dengan pemerintah daerah dan manajemen perusahaan, tapi tetap saja permintaan ini cueki oleh pihak ke dua perusahaan tersebut, terang Masykur.

“Perusahaan ini maunya apa sih. Diminta merelakan beberapa pohon kelapanya ditebang demi untuk kepentingan masyarakat luas tapi tetap saja menolak. Ini namanya tidak ada penghargaan dan penghormatan sedikit pun terhadap program yang dicanangkan oleh pemerintah pusat,” sebutnya.

Ia menegaskan sebagai anak perusahaan PT Astra Agro Lestari (AAL), salah satu raksasa perkebunan kelapa sawit, semestinya perusahaan tersebut bersikap lebih manusiawi ketimbang lebih mempertahankan pohon kelapanya. Sebab katanya, ada ribuan jiwa masyarakat Riopakava yang hari ini menanti dengan suka cita daerahnya akan dilistriki setelah selama puluhan tahun mereka hidup dalam kondisi gelap gulita dan hanya dibantu dengan penerangan seadanya. Itupun bagi kalangan tertentu yang mampu membeli alat penerangan seperti mesin genset.

“Bagi warga Kec. Riopakava salah satu penghormatan sesungguhnya kehadiran negara ditengah mereka tatkala sumber penerangan listrik sudah menerangi kampung mereka. Dan ini yang menjadi penantian panjang bagi mereka,” ungkapnya.

Namun ironisnya katanya, penantian panjang kehadiran hakiki negara disana terhambat karena sikap angkuh perusahaan. Sikap seperti ini seolah kita hendak digiring kembali masuk ke era “kolonialisme”, dimana kepentingan masyarakat luas dikalahkan oleh dominasi kekuasaan modal, sebut Masykur.

“Kalau sikap seperti itu terus menerus dipertontonkan oleh anak perusahaan PT. Astra Grup ini maka habis logika kita. Sudah cukup negara memberi kemudahan berinvestasi kepada kalian, sehingga ketika negara melalui pemerintah menjalankan program untuk melistriki daerah yang masih gelap maka sepatutnya kalian memberi dukungan untuk mensukseskan program pembangunan itu. Bukan malah menghambat.

Seperti diketahui program melistriki Riopakava ini ditarik dari wilayah Pasangkayu Kabupaten Mamuju Utara menuju Riopakava Kabupaten Donggala sepanjang 40 kilometer.  Tahun 2016  sebanyak tujuh desa terpasang, Desa Mintimakmur, Pantalobete, Polanto Jaya, Riomukti, Bukit Indah, Lalundu dan Polando Jaya. Sementara di tahun 2017, empat desa, desa Bonemarawa, Mbulava, Ngovi Pakava dan Panca Mukti.

Di tahun 2018 PLN akan menuntaskan pembangunan jaringan listrik di Desa Taviora, Tinaoka dan Pakava. Sehingga diharapkan sampai tahun depan sebanyak 14 desa di Kecamatan Riopakava sudah menikmati sarana penerangan, ujar Masykur.

Ketua Fraksi Partai Nasdem DPRD Sulteng ini mendesak kepada pimpinan kedua perusahaan tersebut untuk segera memenuhi permintaan PT. PLN Cabang Palu terkait penebangan sekitar 100 pohon kelapa sawit guna memuluskan dan mengkoneksikan pemasangan instalasi listrik di Riopakava yang hari sudah terpasang di tujuh desa.

Kepada Pemerintah Daerah Provinsi Sulteng, bersama Pemda Kabupaten Donggala dan Mamuju Utara dimintai untuk segera memdesak dan mendudukan pihak perusahaan dan PT. PLN Cabang Palu dalam forum pertemuan bersama. Dalam pertemuan tersebut diharapkan lahir keputusan untuk segera merealisasikan pemasangan instalasi listrik melewati wilayah kebun kelapa sawit.

“Kita berharap sebelum Bapak Presiden Joko Widodo hadir di Sulteng nanti warga masyarakat Riopakava sudah menikmati sarana penerangan. Dan puluhan tahun kampung itu gelap gulita, kini tinggal menghitung hari jadi terang,” tutup Masykur.

Sementara itu CDO PT. Mamuang, Teguh yang dikonfirmasi melalui telepon selulernya di nomor 0813 5019 xxx tidak mengangkat telepon. SMS yang terkirim ke nomor tersebut juga tidak dijawab.

Walau demikian, Juru Bicara Astra Agro Lestari Celebes 1 Budi Sarwono yang dirilis antarasulteng.com menyatakan pihaknya tidak ada masalah dengan program tersebut, karena perusahaan tetap mendukung program kelistrikan bagi masyaraat. Tetapi kata dia, saat ini perusahaan hanya menunggu dan menyesuaikan kapan PLN akan melakukan penarikan bentangan kabel listrik.

“Yang saat ini masih tiangnya saja berdiri. Jangan sampai, kami sudah melakukan penebangan, tetapi listriknya belum masuk ke masyarakat,” katanya seperti dikutip dari antarasulteng.com.

Menurut Budi, pihaknya berkaca pada pengalaman sebelumnya, saat program listrik masuk di arah Lalulundu, pihaknya sudah menebang sekitar 400 pohon kelapa sawit. Namun hingga empat tahun lamanya, listrik tersebut belum juga selesai. (afd/antarasulteng.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.