Perempuan Mesti Terlibat dalam Pengelolaan Sumberdaya Hutan

0
122
Wiwin Matindas. (Foto: Ist)

Hal itu disampaikan ketika membuka kegiatan peningkatan kapasitas perempuan yang berada di wilayah sekitar hutan dan Taman Nasional Lore Lindu beberapa waktu lalu.

Dia menyebutkan terdapat beberapa desa yang berada dalam lanskap Lariang beririsan di wilayah Taman Nasional Lore Lindu semisal wilayah Kecamatan Lore Utara, Lore Barat dan Lore Peore yang didalamnya terdapat desa-desa yang penghidupannya bergantung pada pertanian dan hutan serta beberapa sektor lainnya.

 “Untuk mewujudkan penghidupan hijau berkelanjutan peran perempuan tentunya menjadi salah satu penentu arah dan kebijakan dalam pembangunan pengelolaannya akan tetapi praktek pelibatan perempuan masih sangat minim, olehnya penting para pihak mulai saat ini mempertimbangkan ruang-ruang pelibatan perempuan baik secara kelompok maupun organisasi perempuan yang ada di level desa maupun yang lebih tinggi tingkatannya,”tegas Wiwin Matindas, Kamis(7/9).

Ia menjelaskan kelompok perempuan kelompok perempuan disepanjang desa-desa yang ada di bagian Hulu dan Hilir Sungai Lariang memiliki  praktek pengelolaan tata kelola sumber daya alam yang ada di lanskap daerah aliran sungai lariang berdasarkan kearifan local masyarakat, serta inisiatif maasyarakat yang menjadi modal sosial untuk mengelola dan mempertahankan sumber daya alamnya yang berkelanjutan.

 “Tetapi terkait situasi masing-masing desa yang saat ini menjadi persoalan masyarakat di Desa Kageroa, Tumehipi, Tuare, Wanga, Siliwanga dan Watutau antara lain  terbatasnya akses  masyarakat dalam mengelola sumber daya hutan di kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Belum lagi  ancaman investasi di sektor pertambangan dan perkebunan skala besar, pembangunan investasi energi yang dinilai berpotensi merusak lingkungan, menghilangkan dan merampas sumber-sumber kehidupan masyarakat di komunitas tersebut serta dampaknya pasti terhadap kelompok perempuan,”Ungkapnya.

Dalam menghadapi kondisi demikian maka perlu melakukan upaya-upaya peningkatan kapasitas perempuan dari masing-masing desa agar mampu menggambarkan situasi maupun kondisi desa mereka melalui peta desa yang didalamnya tergambar sketsa bentuk ruang desa untuk melihat potensi  ekonomi yang bisa dikembangkan masyarakat untuk mempertahankan penghidupan hijau berkelanjutan. (bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.