OPINI | Numpang Merdeka di Tanah Sendiri

0
134
Asman Asgar

Oleh : Azman asgar

“Sekali merdeka tetap merdeka, selama hayat masih dikandung badan. Kita tetap setia tetap sedia mempertahankan indonesia,kita tetap setia,tetap sedia membela negara kita”.

Siapa yang tidak hafal dengan lagu 17an itu? Kalau tidak hafal berarti diragukan ke-Indonesia-annya hehehe… Tapi ini bukan fatwa yah, hanya soal menguji daya ingat kita saja sih. Penggalan lagu perayaan tujuhbelasan diatas sudah saya hafal sejak dikenalkannya permainan kelereng di kampung halamanku. Ibarat baca Alquran boleh dibilang sudah hatam 30 juz dalam tiap bulannya dikelas TPA kelurahan.

Di areal depan rumah ada sebidang tanah yang ukurannya cukuplah buat bercanda ria untuk masa kecil dulu, paling banter bisa jadi pusat permainan anak usia dini mulai dari sepak takraw, kelereng, masih banyak permainan unik lainnya. Disitulah lagu tujuh belasan saya sering dengar dinyanyikan kawan-kawan di atas usiaku ketika momen 17an sudah tiba.

Kadang juga sering kami nyanyikan saat lomba gerak jalan, saat pemasangan umbul-umbul, vocal group meskipun levelnya hanya tingkatan dusun sih…..

Entah mengapa saat pengurus badan Ta’mir menyampaikan lewat speacker masjid terkait pemasangan umbul-umbul di depan halaman rumah, seperti saat itu kami merasa sudah menang bertempur melawan kolonial Belanda dan Jepang.

Bukan tanpa alasan sebab kamipun masih merasa beruntung karena sempat melihat film-film perjuangan para pemberani-pemberani terdahulu. Buat kami ini lebih heroik dari Captain America, Spider Man, Power Rangers, Panji Manusia Milenium maupun Rambo dalam setiap episodenya.

Tapi sudahlah, tulisan satire ini bukan untuk bahas soal umbul-umbul, gerak jalan, Spiderman dan lain sebagainya. Sebab buat kami itu ilusi sejak orde otoriter berkuasa selama 32 tahun lamanya, juga bukan soal sebidang tanah tempat kami bermain kelereng karena tanah itu sudah berdiri tembok-tembok pemanen yang menjulang tinggi seperti kamp pertahanan tuan Hitler dahulu.

Yang jadi kalimat tanya dewasa kini, Sudah merdeka kah kita??? Pertanyaan ini terkadang disalahartikan, biasanya kita yang hendak bertanya dianggap gagal Move On seperti serial drama romantis di FTv masa kini, disitu kadang saya merasa sedih antara saya yang kuper alias kurang pergaulan atau memang mereka yang sulit merasionalkan kalimat tanyaku? Kali ini, biar tidak kena dosa saya coba berfikir positif tentang mereka, biar tidak disangka provokatif dan tidak nasionalis nantinya.

Tapi memang, hal-hal demikian kurang menjadi pendiskusian yang serius di kalangan masyarakat kita. Jangankan di masyarakat bro, di kalangan intelektual kampus pun sudah malas mendiskusikan hal-hal demikian.

“Mereka” lebih senang membentuk suatu lembaga  yang setara dengan IMF, World Bank maupun WTO yang orientasinya sama, kalau bukan mengeksploitasi habis-habisan saudaranya sendiri, mengumpulkan pundi-pundi ekonomi, bahkan menjadi superior di kalangan pemuda lainnya. Giliran dikritik eh malah kita dituduh gerakan Anti Pancasila bahkan lebih ekstrem sangkaan sebagai gerakan Radikalisme. Ampuuuunnn dah…

Kita lebih suka meributkan soal identitas kita, seakan kita ini benar-benar manusia pertama yang tinggal di nusantara, kita lebih doyan ngomongin nerakanya orang lain ketimbang ngomongin neraka buat kita sendiri. Kita lebih suka mem-viral- kan despacito ketimbang memperjuangkan apa yang menjadi hak dan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia, menyampaikan kondisi saudara kita yang sedang berjuang untuk mempertahankan agar asap di dapurnya tetap mengepul setiap harinya

Padahal kalau mau jujur, apa sih yang kita punya di negeri ini mangge? Mereka tau atau pura-pura tidak tahu?

Sejengkal tanah pun untuk diperebutkan mesti dibayar dengan pentungan, bedil, peluru ataupun kurungan penjara sebagai guna-guna untuk membungkam perjuangan kita. Lebih ngeri lagi kalau mati pun kita mesti bingung buat cari tanah untuk menguburkan jasad kita kelak. Air yang begitu deras mengalir dari hulu sampai ke hilir sudah tidak lagi kita nikmati sebagai milik bersama melainkan milik tuan-tuan yang mulia bibirnya tapi serakah kelakuannya heheheehe…

Isi kepala ini sulit untuk merasionalisasikan sebuah negara dengan garis pantai terpanjang tapi import garam, negara yang agraris dengan segala kesuburannya tapi masih delivery beras dari toko di negara sebelah bukan toko pedia yah……,

Mau sekolah pun masih terasa sulit, kalaupun dapat gratisan mesti dapat kartu sakti mandraguna dulu dong. Sedikit naik kasta ditingkatan Universitas biayanya pun minta ampun, mesti jual tanah, jual rumah atau jadi kuli, asal jangan jual diri yah!!!. Padahal kalau tidak salah ingat, dan kalaupun preambul itu belum diganti sih itu merupakan tugas dan tanggung jawab negara loh. Jadi tidak mesti diributkan.

Lantas, dalam segi apa kita melihat dan memaknai kemerdekaan ini? Kalau toh semua yang kita punya di negeri ini dimiliki segelintir orang, padahal Soekarno sudah bekhotbah kalau kemerdekaan ini bukan milik golongan, kelompok maupun individu-individu tertentu. Tapi kemerdekaan ini milik kita semua, milik kita bersama dari sabang sampai merauke.

Rusia punya “merdeka”, Amerika juga punya, China, Inggris apalagi. Mereka semua merdeka dengan segala apa yang dimiliki oleh negaranya. Berbanding terbalik di tanah kita Indonesia, semua serba numpang merdeka saja, sebab semua sudah tergadai tak tahu kapan bisa dilunasi Oh My God….

Sepertinya kita cuma numpang merdeka di tanah kita sendiri, apa-apa mesti beli, mau kerja? Apa ia lapangan pekerjaan masih ada? Wong saudara-saudara kita saja masih sering mengadu nasib di negeri orang jadi TKI.

Enathlah…… yang jelas otak ini perlu break sejenak, bukan hanya buruh-buruh pabrik yang perlu istirahat di Sabtu-Minggu tapi otak kita juga, biar tidak gampang lalod dan lupa seperti “mereka”di momen pemilukada maupun pemilihan legislatif. Kalaupun mereka lupa kan bisa tuh minum Cerebrofit untuk mengembalikan daya ingat mereka sewaktu kampanye dulu, biar jadi ingat sama janji-janji bersama dahulu coy.

Tapi, apapun yang mendera bangsa kita tidak mesti menjadikan kita lupa akan tanggung jawab kita sebagi anak yang lahir di zaman serba moderen seperti saat ini. Paling tidak The Founding Fathers kita terdahulu pernah mengukir sejarahnya untuk memerdekakan bangsa ini 100 % tanpa tedeng aling-aling.

Ini yang kemudian menjadi spirit kita dalam bertindak, berkreasi, inovatif untuk menuntaskan cita-cita mulia Revolusi 1945, sebab itu bukan tugas segelintir orang saja melainkan tugas kita semua sebagai bangsa yang besar tanpa dibatasi sekat-sekat sektarian antar kelompok maupun golongan tertentu.

Merdeka!!

Merdeka!!

Merdeka!!!

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 72 tahun.(***)

*) Penulis : Ketua Komite Pimpinan Kota Partai Rakyat Demokratik (KPK PRD) Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.