Kemiskinan dan Analogi Ekonomi “Kucing Gemuk”

0
114
M. Ikbal Ibrahim

Oleh: Muhamad Ikbal A Ibrahim

PROBLEMATIKA ekonomi memang jauh dari kata usai. Sejak kerja produksi untuk kebutuhan hidup dimulai, sejak itu pula ekonomi memasuki gerbang dinamikanya. Bahkan manusia dan populasinya dikelompokan berdasarkan kerja ekonominya. Tak heran, upaya menerapkan keadilan dalam lapangan ekonomi mensyaratkan perombakan strutkur masyarakat itu sendiri.

Sejarah manusia dapat dipahami melalui corak produksinya. Karl Marx dalam kajian materialisme historisnya merumuskan hukum baku gerak sejarah perkembangan masyarakat. Motor perkembangan sejarah tersebut menurutnya adalah pertentangan antara “kelas social” dalam struktur produksi. Setiap zaman, memiliki dua kelas yang bertentangan dan tak terdamaikan, sehingga proses penyelesaianya adalah melenyapkan salah satu kelas social tersebut.

Fenomena “Kucing Gemuk”

Istilah ini popular saat mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama berpidato dalam salah satu pertemuan organisasi internasional. Penegasan dari pidato tersebut adalah problem kemiskinan disebab oleh ketimpangan dalam struktur social ekonomi masyarakat. Menurutnya, saat ini perekonomian dikuasai oleh segelintir orang, dan memarjinalkan mayoritas rakyat. Minoritas yang menguasai perekonomian ini di analogikan sebagai “kucing gemuk”.

Abad 21 memang dicirikan dengan trend ekonomi pasar bebas atau “Neoliberalisme”. Saat ini, kekayaan beberapa negara maju sama dengan kekayaan seluruh kekayaan negara-negara berkembang. Ketimpangan ini nyata dihadapan mata dimana negara-negara berkembang seperti Indonesia menjadi sasaran produk-produk merek negara-negara maju. Lihat saja, industri elektronik, ada Samsung, Sony, Nokia, Panasonic, Sharp dl. Pasar kendaran seperti motor hanya di dominasi oleh Yamaha, Honda, dan Suzuki.

Inilah realitas yang sungguh ironis. Kondisi yang sengaja di desain agar negara maju tetaplah superior, sedangkan negara berkembang tetaplah inferior. Label negara industry hanya milik AS, Jepang, Cina, dan Negara-negara Uni Eropa, sedangkan negara seperti Indonesia dan ratusan negara-negara lain hanya menjadi pasar hasil industry negara maju. Sederhananya negara maju mendapat julukan “produktif” sedangkan negara berkembang mendapat julukan “konsumtif”.

Setiap perisitiwa di dunia ini, selalu berkaitan dengan perang negara-negara adikuasa ini. Jika di dekade 70-an julukan adikuasa hanya milik AS, maka saat ini polarisasi negara maju mulai merembet Asia. Lihat saja kekuatan Cina, bahkan pasar AS sekalipun menjadi sasaran pasar bagi produk Cina. Perang saudara yang  tak berkesudahan di Timur Tengah adalah skenario selain faktor ideologis, juga perebutan sumber daya alam seperti migas dan juga perluasan pasar bagi industry persenjataan, yang di dominasi AS. Sengketa Semenanjung Korea, aspek jalur perdagangan, kandungan minyak, juga berkaitan dengan pertarungan hegemoni global. Lihat saja Korea Utara, yang mendapat dukungan Rusia dan Cina, sedangkan Korea Selatan mendapat dukungan AS dan beberapa Negara-negara Sekutunya.

Inilah tatanan dunia baru, yang di sebut oleh Francis Fukuyama sebagai “The End Of History” walaupun tentu masih perlu diperdebatkan. Tak salah juga jika ada ungkapan siapa yang menguasai minyak akan menguasai dunia, namun tanpa membantah pandangan tersebut, Venezuela saat ini sebagai salah satu pemasok terbesar kebutuhan minyak dunia, juga dihantam problematika ekonomi dengan turunya harga minyak disebabkan oleh interevensi AS. Bahkan kekuatan oposisi saat ini di Venezuela menuntut rezim Nicolas Madura turun. Padahal rezim ini dikenal sebagai rezim kiri “anti neoliberalisme”.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia tak berarti luput dari fenomena “kucing gemuk”. Sebagai salah satu negara yang menerapkan system ekonomi Neoliberalisme, fenomena ini sangat terang didepan mata. Kemiskinan, pengangguran, intoleransi, kriminalisasi, korupsi, menjadi bagian yang integral dari mekanisme ekonomi neoliberal ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik saat ini ada 40 orang yang kekayaanya sama dengan 140 juta rakyat Indonesia. Secara kasat mata tidak ada yang jenggal, namun jika ditelisik lebih dalam asset kekayaan 40 orang terkaya ini didapat dari ekploitasi yang massif terhadap kehidupan 140 Juta rakyat. Kekayaan ini tak turun dari langit, namun hadir, menggelembung, disebabkan hak hidup orang lain yang direnggut.

Lihat saja, investor perkebunan dan pertambangan yang mengakumulasi kekayaanya dari perampasan tanah rakyat, dalam pabrik,  akumulasi didapat dari eksploitasi terhadap upah buruh. Belum lagi masifnya industri asing yang beroperasi disektor bahan mentah, hanya menyisahkan lautan pengangguran tanpa pekerjaan. Sehingga klaim “orang terkaya” adalah jubah yang didapat dari merampok hak kesejahteraan ratusan juta rakyat. Akhirnya berdampak terhadap sulitnya akses pendidikan bagi anak si miskin, terbatasnya akses kesehatan bagi kaum papah sengsara.

Kucing gemuk ini tak berjuang sendiri, mereka didukung oleh apparatus pemerintah melalui sokongan aturan baik Undang-Undang dan peraturan lainya. Pada akhirnya fenomena “kucing gemuk” ini adalah fenomena sistemik. Sehingga untuk melawanya harus melalui prombakan system ekonomi yang dianut oleh Indonesia yakni Neoliberalisme. Alternative system ekonomi neoliberalisme adalah system ekonomi kerakyatan, yang berpatokan pada Pasal 33 UUD 1945, Trisakti, dan Reforma Agraria. Tentu syarat utama adalah membangun industrialisasi, sama persis dengan apa yang dilakukan Jepang dan Cina dulu untuk mengejar ketertinggalan dari AS. Akhirnya saat ini, kita liat Cina dan Jepang adalah salah satu competitor terberat dari AS dalam peta ekonomi global.

Indonesia mesti mandiri secara ekonomi, industrialisasi nasional berdasarkan pasal 33 UUD 1945 adalah mengelola kekayaan sumber daya alam dan menghidupkan pasar dalam negeri. Sehingga, modal dalam jumlah besar tidak lagi dibawah keluar (capital outflow), namun bersiklus dalam Indonesia sendiri. Hanya dengan upaya ini Indonesia dapat membangun dan menerapkan sila kelima pancasila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada akhirnya perjuangan anti neoliberalisme adalah perjuangan mewujudkan masyarakat adil makmur dan perjuangan mendistribusikan kekayaan “kucing gemuk” untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia yang selama ini termarjinalkan. ***

*) Ketua Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) Sulawesi Tengah

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.