Ratusan Burung Berkicau Berkompetisi di Taman GOR Palu

0
111
Peserta menyiapkan burung jenis Murai Batu (Copsychus malabaricus) untuk diikutkan pada kontes burung berkicau di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (19/3/2017). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu.NET | Ratusan burung berkicau aneka jenis dari berbagai komunitas pecinta burung di Palu mengikuti konstes di Taman GOR Palu, Minggu (19/3/2017).

Salah seorang panitia menyebutkan, kontes itu mempertandingkan 7 kelas di antaranya kelas burung jenis Murai Batu, Cucak, Kacer, Lovebird. Selain untuk menjalin silaturahmi di antara sesama pecinta burung, kontes itu juga dimaksudkan sebagai ajang evaluasi terhadap pelatihan yang sudah diberikan pemiliknya terhadap burung-burung peliharaan tersebut.

Di antara burung-burung yang ikut dalam kontes tersebut, beberapa di antaranya telah memenangkan sejumlah kompetisi sebelumnya, baik di regional Sulawesi Tengah, maupun di luar provinsi.

Burung Murai Batu (Copsychus malabaricus) berkicau pada kontes burung berkicau di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (19/3/2017). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Ketua  Brother Bird Club (BBC) Wahyudi Pababari menyatakan sambutan positifnya dengan adanya kontes tersebut. Paling tidak kata dokter spesialis penyakit dalam ini, kontes ini telah menyambung rantai silaturahmi di kalangan para pecinta burung yang memiliki beragam latar belakang dan profesi.

“Lebih dari itu, kontes seperti ini juga menggerakkan roda ekonomi, karena hampir semua aspeknya terdorong, mulai dari bisnis burung hingga perlengkapannya seperti sangkar, sampai dengan aspek pakan semisal budidaya jangkrik,” kata Wahyudi.

Ia menyebutkan, tak kurang dari 6.000-an pecinta burung di Sulawesi Tengah saat ini, dan jumlah tersebut terbilang tidak kecil dan berpotensi dalam mendorong pergerakan ekonomi daerah.

“Kontes seperti ini sebenarnya mendorong nilai jual burung, karena jika mendapat juara harga jualnya pasti melambung. Alhamdulillah, beberapa burung di Palu beberapa  kali mengharumkan nama daerah dan nilai jual burung yang menang itu langsung terdongkrak,” sebutnya.

Ia mengakui, memelihara burung sebagai kecintaan bukan pekerjaan mudah. Selain memerlukan ketelatenan dan kesabaran, juga diperlukan pengetahuan untuk mengenali karakter burung.

“Gampang-gampang susah juga, tapi kalau benar-benar pecinta burung, memelihara dan melatih burung berkicau tidak sulit, yah karena menjadi hobi atau kecintaan,” jelas Wahyudi ketika disinggung soal pemeliaharaan burung tersebut.

Dua ekor burung Lovebird (Agapornis personata) berkicau pada kontes burung berkicau di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (19/37). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Wahyudi mengatakan, untuk kelas regional, kemampuan burung berkicau di Sulteng ini termasuk sudah bisa diandalkan, tidak saja dalam hal menjadi juara, tetapi juga dalam pengembangannya termasuk dalam kaitan bisnis.

“Selama ini burung-burung berkicau ini banyak didatangkan dari luar. Nah sekarang di Palu sudah ada yang mencoba membudidayakan atau mengusahakan pengebangbiakannya. Dalam hal ini, kita juga sedang mengeksplore jenis burung lokal yang khas,” terangnya.

Ke depan katanya, kontes seperti ini sedang diusahakan agar masuk dalam salah satu agenda Palu Nomoni. (afd)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here