1 Miliar Bangkit : Cegah dan Hentikan Kekerasan di Poso

0
124
Ratusan perempuan dan anak turun ke jalan menyerukan penghentian dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Poso, Selasa (14/2/2017). (Foto: Institut Mosintuwu)

POSO, beritapalu.NET | Dua dari tiga perempuan dan anak setiap harinya mengalami kekerasan. Demikian temuan Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak (RPPA) Institut Mosintuwu, di Kabupaten Poso.

“Terdapat 15 bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak yang kami jumpai adalah kekerasan seksual. Di antaranya perkosaan, pemaksaan pernikahan, kekerasan dalam rumah tangga, ingkar janji dan sebagainya” ungkap koordinator RPPA Mosintuwu Evi Tampakatu dalam rilisnya, Selasa (14/2/2017).

“Terhadap fenomena kekerasan di Kabupaten Poso, tidak bisa hanya diselesaikan melalui jalur hukum. Dibutuhkan kesadaran dari masyarakat karena masyarakatlah yang berada, melihat, mendengar perilaku kekerasan di sekitar mereka,” imbuh Evi lagi.

Menurutnya, peran masyarakat dalam menghentikan dan mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak dirasakan sangat penting sehingga kampanye harus terus dilakukan.

Dalam rangka itu, sejak tahun 2014, Institut Mosintuwu bergabung bersama gerakan sedunia dalam gerakan yang disebut “One Billion Rising” atau I Milyar Bangkit. Angka ini mengasumsikan jumlah kesadaran penduduk di seluruh dunia dalam menghentikan dan mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Masyarakat di Kabupaten Poso yang jumlahnya sekitar 200 ribuan harus menyumbangkan angka kesadaran masyarakat untuk bersama-sama seluruh dunia menghentikan dan mencegah kekerasan, dan bukannya menambah jumlah pelaku kekerasan” jelas Evi Tampakatu.

(Foto: Institut Mosintuwu)

Kampanye One Billion Rising dilakukan dengan tarian massal di jalanan kota Poso bertepatan dengan hari Valentine yang dirayakan sebagian orang. Hari Valentine atau hari kasih sayang, menurut Evi menjadi simbol yang dipilih untuk mengasumsikan bahwa setiap orang khususnya perempuan dan anak berhak mendapatkan kasih sayang bukan kekerasan dalam bentuk apapun.

Sekitar 150 perempuan bersama dengan anak-anak dari berbagai desa di Kabupaten Poso turun ke jalan menyerukan penghentian dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Bergabung bersama perempuan dan anak yang diorganisir oleh Institut Mosintuwu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Poso serta para aktivis dari berbagai organisasi.

Dimulai dari jam kota Poso, rombongan yang memakai baju merah muda, merah dan ungu ini berjalan kaki ke arah depan kantor Polres Poso, menuju lokasi pasar lama dan berputar ke alun-alun Sintuwu Maroso yang letaknya di depan kantor Bupati.

Sepanjang jalan, selebaran berisi seruan dan himbauan dibagikan kepada masyarakat untuk menjadi bagian dari gerakan bersama seluruh dunia hentikan dan cegah kekerasan pada perempuan dan anak.

Kesadaran masyarakat Poso untuk menjadi bagian dari gerakan 1 Miliar Bangkit ini diyakini menjadi langkah yang mampu menyumbang kehidupan damai dan adil di Kabupaten Poso.

“Pengalaman Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak ( RPPA ) Institut Mosintuwu mendampingi dan mengadvokasi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Poso, bisa dipastikan pelaku kekerasan adalah orang terdekat korban, bukan orang yang jauh dari korban “ kata inisiator One Billion Rising di Poso, Lian Gogali.

“Pelaku potensial adalah mereka yang justru harusnya melindungi korban, mereka yang dipercaya korban. Mereka adalah ayah kandung, ayah tiri, pacar, guru dan tokoh masyarakat,” bebernya.

Menghadapi pelaku yang adalah orang terdekat korban, menurut Lian, menjadi lebih sulit. Hal ini dikarenakan ikatan emosional dalam lingkaran kekerasan yang dialami korban sangat mempengaruhi. Apalagi, tambah Lian, jika korban berusaha lepas dari kekerasan yang dialaminya tapi lingkungan sekitar termasuk orang tua kandung atau sahabat disekitarnya tidak mendukung dan malah memojokkan.

“Salah satu kasus yang kami hadapi misalnya, pelaku adalah ayah tiri, tapi ibu kandungnya tidak mau mengakui adanya pemerkosaan bahkan melindungi ayah tiri dan mengatakan anaknya berbohong,” cerita Lian.

“Kejadian seperti ini yang sangat sering menyebabkan korban pasrah dan terus menerus mengalami kekerasan dalam hidupnya, takut melapor dan malu,” sebutnya.

Ia mengatakan, kenyataan tersebut menunjukkan pentingnya kesadaran masyarakat mulai dari lingkungan keluarga, tetangga hingga komunitas tentang berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak. Setiap orang yang ada dalam masyarakat berpotensi mengalami kekerasan.

“Bisa jadi hari ini yang mengalami kekerasan adalah orang lain di dalam desa, atau orang di luar desa. Jangan salah, anak kita dalam rumah, atau tetangga kita, saudara kita bisa jadi adalah mereka yang mengalami kekerasan” tambah Lian Gogali.

Karena itu lanjutnya, setiap satu orang penting untuk sadar dan menjadi bagian dari gerakan mencegah dan menghentikan kekerasan. Mungkin, bukan dia yang mengalami kekerasan tapi orang lain, tapi kalau dibiarkan peristiwa kekerasan dialami orang lain, maka sangat mungkin dirinya sendiri akan mengalaminya juga. Karena kekerasan itu menular jika dibiarkan. Menular karena orang menganggap wajar melakukannya, toh tidak ada yang marah atau mencegah dan menghentikannya.

Kekerasan terhadap perempuan dan anak menular jika dibiarkan karena dianggap wajar melakukannya. Apalagi, menurut Lian, jika perpesktif masyarakat masih menganggap bahwa perempuan dan anak adalah properti miliknya. Sebagai properti terdapat semacam perasaan berhak untuk melakukan apapun termasuk melakukan kekerasan.

“Gerakan mencegah dan menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa jadi mudah tapi juga akan sulit. Mudah jika kesadaran dalam keluarga terbangun, sulit apabila merasa bahwa kekerasan yang dialami orang lain bukan urusan kita,” paparnya.

Dikatakan, menuju kota Poso yang cerdas seperti yang selama ini didengungkan oleh pemerintah Kabupaten Poso harusnya juga mengikutsertakan gerakan masyarakat Poso yang cerdas terhadap upaya membangun rasa aman pada perempuan dan anak.

“Setiap 1 orang yang sadar terhadap pentingnya menjadi orang yang mencegah dan menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak, kami yakin 100 perempuan dan anak di Kabupaten Poso akan terselamatkan dari berbagai bentuk kekerasan. Bahkan lingkaran kekerasan yang bergenerasi akan putus” pungkas Lian.

Kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam bentuk tarian massal ini adalah yang ketiga kalinya diadakan di Kabupaten Poso. Kali ini kampanye dilakukan bersama Institut Mosintuwu bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak serta Dinas Pendidikan Kabupaten Poso. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.