Merajut Mimpi di Banua Pangajari Kotarindau

0
83
(Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

MATA puluhan anak usia Sekolah Dasar (SD) tajam menatap ke whiteboard yang di atasnya bertuliskan beberapa huruf Arab. Sesekali suara riuh ala anak-anak terdengar dari balik ruang kelas terbuka beratap jerami di bekas kandang sapi itu. Anak-anak itu melafalkan huruf-huruf Arab dan kemudian menerjemahkannya.

Sore itu memang sedang ada jadwal belajar pendidikan Agama Islam di Banua Pangajari atau rumah belajar yang terletak di Dusun III Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Bahasa Arab adalah satu dari banyak materi lainnya yang diberikan oleh para relawan-relawan pendidikan di tempat itu.

Anak-anak itu adalah juga siswa di SD yang ada di sekitar desa itu. Tapi mereka memilih ikut pelajaran di tempat itu karena orang tuanya menyadari, sekolah formal saja tidak cukup untuk membekalinya. Apalagi di Banua Pangajari, materi yang diberikan umumnya pelajaran yang tidak didapatkan di sekolah formal.

(Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Di Banua Pangajari yang berdiri sejak Mei 2016 lalu itu, mereka mendapat pelajaran tambahan tentang Bahasa Arab, Bahasa Inggris, pendidikan agama, pendidikan seni dan bahkan pendidikan keterampilan. Bahkan pendidikan moralitas yang kebanyakannya hanya sedikti tersentuh di sekolah formal, mereka dapatkan di Banua Pangajari meski ke tempat itu hanya pakai sandal.

Banua Pangajari adalah sarana baru untuk melek pendidikan di desa itu. Bukan hanya bagi anak-anak, tetapi juga pemuda dan orang-orang tua. Kelas anak-anak dijadwalkan tiga kali dalam sepekan, masing-masing setiap hari Senin, Rabu dan Sabtu sore.

Sedangkan untuk para pemuda dijadwalkan tiga kali pula dalam seminggu. Begitu pula untuk kalangan orang tua yang kebanyakannya ibu-bu, mereka mendapatkan kelas malam yang jadwalnya disesuaikan dengan waktu lowongnya.

Para pemuda dan dan orang tua diberi berbagai materi pelajaran keterampilan yang dapat meningkatkan kecakapannya. Tak hanya itu, bagi kelompok ini juga disajikan wawasan pengetahuan tentang kehidupan sehari-hari termasuk bagaimana agar terhindar dari pengaruh negatif kultur dari luar yang tidak bersesuaian dengan norma keseharian.

Bukan itu saja, mereka dibekali pengetahuan tentang narkoba, anti korupsi dan banyak lagi wawasan yang bertalian dengan dengan pembentukan karakter dan perilaku.

(Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Mereka yang memiliki bakat di bidang kesenian juga dapat menyalurkannya melalui media berkesenian yang dibentuk dari kesepakatan mereka sendiri. Sejumlah anggotanya bahkan telah menunjukkan prestasi seninya dengan mewakili desa itu ke event-event bergengsi di luar daerah.

Terhadap ibu-ibu, hasil pelajaran keterampilan telah memulai menunjukkan hasil. Kelompok belajar itu telah mampu menghasikan produk kerajinan yang memiliki pasar khusus. Seperti pembuatan keranjang dari bahan daun kelapa yang banyak tumbuh di desa tersebut. Mereka juga diajari bagaimana memanfaatkan tomat dan tanaman lainnya jika harga sedang anjlok di pasaran.

Kelompok ibu-ibu yang pembuat kue-kue bahkan sudah sampai ke level pemenuhan kebutuhan tingkat desa. Keperluan konsumsi tingkat desa jika ada kegiatan, tak lagi harus mengandalkan dari luar karena sudah bisa dipenuhi lewat kelompok tersebut.

Tak hanya bergulat dengan keterampilan dan membuat kue-kue atau masakan lainnya, ibu-ibu itu juga diberi pengetahuan tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang kerap terjadi di desa tersebut. Lambat tapi pasti, pengetahuan itu memasuki sukma para pesertanya. Evaluasi terakhir, tingkat KDRT di desa itu menurun signifikan.

Kini, Banua Pangajari itu mulai memperlihatkan jati dirinya sebagai wadah untuk merajut mimpi masa depan desa itu. Sesungguhnya, wadah itu hadir dari kegelisahan sekelompok warganya akan masa depan desanya.

Tersebutlah lima orang inisiatornya. Mereka adalah Selfina Cepi, Voler, Sofian, Abas dan Fajrin, kelimanya adalah warga desa itu. Kelima anak muda ini gelisah, bukan saja karena ketika menyebut Kotarindau yang identik dengan perkelahian atau kerusuhan, melainkan juga karena ia merasa bertanggungjawab atas keberlanjutan hidup dan kedamaian serta kesejahteraan desanya.

“Tak sedikit tantangan yang kami hadapi ketika pertama kali Banua Panagajari ini kami gagas Maret 2016 lalu. Banyak sekali bahasa pesimis yang kami dengar, banyak sekali halangan yang kami temui, dan juga tak terhitung kendala kami dapatkan di lapangan. Tapi bagi kami, inilah saatnya. Kami berketatapan, apapun yang terjadi, banua Pangajari harus berdiri. Kami sangat kuatir dengan masa depan desa kami jika ini tidak dilaksanakan,” cerita Selfina, salah seorang penggagas Banua Pangajari itu.

(Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Selfina yang akrab disapa Cepi ini menuturkan, sebelum dibentuknya wadaha Banua pangajari itu, dirinya bersama inisiatro lainnya sudah krasak krusuk ke tokoh-tokoh adat dan pemuka masyarakat di desa tersebut. Besarnya dukungan dari warga setempat semakin menahbiskan keinginan kuatnya untuk segera merealisasikan mimpi itu, meski harus menerima keadaan apa adanya.

Gayung berambut, seorang tokoh masyarakat desa itu mewakafkan sebidang tanahnya yang dulunya adalah kandang sapi menjadi sarana belajar dan pusat aktivitas wadah itu. Mereka bergotong royong membersihkan kandang sapi dan menyulapnya menjadi tempat kegiatan belajar.

Sebuah tempat belajar ala kadarnya didirikan di tempat itu. Meskipun dengan konstruksi yang terbuat dari bambu beratap daun jerami, tempat belajar itu menjadi sarana bagi puluhan anak-anak untuk belajar. Anak-anak pun tidak canggung ke tempat itu karena demikianlah kesehariannya. Mereka bisa bermain sambil belajar di lingkungan sekitarnya.

“Kami pernah bermohon ke pemerintahan desa untuk membantu mengadakan papan tulis agar tiga kelas belajar masing-masing kelasa anak-anak, pemuda dan ibu-ibu dapat berjalan lancar. Tapi keuangan desa ternyata tidak bisa memenuhinya. Yah, kami terpaksa kumpul-kumpul duit lalu membeli papan whitboard, lalu kami potong tiga agar semua kelas punya papan tulis,” kenang Cepi.

Cepi tidak menyalahkan pemerintahan desa yang tidak meloloskan permohonannya itu, karena ia menyadari memang tidak ada alokasi dana untuk itu. Justeru ia sangat mensyukuri karena kepedulian warga sekitarnya dengan berswadaya untuk memenuhi kebutuhan kegiatan belajar sangat berpihak.

“Terus terang, swadaya yang ditunjukkan orang-orang tua ini menjadi penguat kami untuk tidak patah semangat untuk terus memajukan Banua Panagajari ini,” tandas Cepi lagi.

(Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Waktu terus berjalan dan Banua Pangajari semakin menunjukkan hasil dari kegiatan belajarnya. Sejumlah pemuda yang sebelumnya buta huruf kini sudah melek huruf, bahkan sebagian besar di antaranya telah siap untuk mengikuti ujian persamaan Paket B dan C.

Tantangannya kemudian adalah bagaimana agar mereka yang sudah siap ujian persamaan tersebut benar-benar dapat mendapat legalitas. Ia mengaku, pihaknya sudah mengusulkan ke DInas Pendidikan setempat agar peserta belajarnya yang jumlahnya sekitar 30-an orang dapat diikutkan dalam ujian tersebut. Masalahnya karena dinas dimaksud membebani Rp500 ribu setiap orang agar dapat ikut dalamujian tersebut.

“Ini jadi persoalan bagi kami dan tentu bagi para calon peserta karena mereka dari keluarga miskin. Uang Rp500 ribu adalah nilai yang cukup besar dan tentu mereka tidak mampu memenuhinya. Tetapi kami mengusahakan bagaimana caranya agar mereka dapat mengikuti ujian persamaan itu sebagai legalitas atas kemampuan yang sudah didapatkannya dari Banua Pangajari,” jelas Cepi lagi.

Secara perlahan namun pasti, kehadiran Banua Pangajari di desa yang dulunya sangat dikenal sebagai daerah konflik itu semakin diterima oleh warga desa. Bahkan menurut Cepi, setiap dusun di desa itu meminta agar di dusunnya juga dibuatkan kelas yang sama.

Pengelola Banua Pangajari bersyukur atas penerimaan itu, sayangnya dirinya sangat terbatas dengan tenaga pengajar.

“Selama ini kami memanfaatkan tenaga relawan pendidikan untuk memberi pelajaran dan semuanya tidak ada yang dibayar alias gratis. Mereka dari desa setempat dan ada pula yang kami datangkan dari luar termasuk dari Palu,” ungkapnya.

(Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Walau demikian, permintaan dari dua dusun lainnya tetap diakomodir. Hanya saja, waktu dan kegiatan belajarnya disesuaikan dengan tempat belajar yang dipusatkan di kelas terbuka yang terletak di Dusun III. Setiap jadawl belajar, mereka harus datang ke tempat itu.

Lebih dari empat bulan berjalan, kehadiran Banua Pangajari sudah mulai membuahkan hasil. Materi yang diberikan tidak saja memberi wawasanbaru terhadap peserta didiknya, tetapi sekaligus mampu mengubah mindset sebagia warganya tentang realitas kehidupan dan bagaimana berlaku di daamnya.

Sejak periode itu, nyaris tidak ada lagi konflik komunal yang kerap kali meminta korban. Bahkan sejumlah pemuda yang dulunya “terlibat” soal narkoba, kini telah selesai direhabilitasi di Badan Narkotika Nasional Daerah (BNN) dan malah menjadi mentor untuk menularkan ketidakbaikan mengonsumsi barang haram itu. Demikian halnya ibu-ibu dan orang tua secara umum semakin memahami posisinya sebagai pelaksana dan penanggungjawab keluarga.

Kelima penggagas Banua Pangajari itu kini melepas senyum senangnya. Mimpinya untuk mendorong kualitas hidup bagi warganya semakin menunjukkan tanda-tanda pencapaian positif. Kelimanya tidak meminta pamrih sebagai balasan atas jerih payahnya. Support untuk kelangsung Banua Pangajari sudah menjadi balasan yang luar biasa baginya.

Baginya, memberi manfaat kepada orang banyak sudah cukup sebagai balasan yang setimpal. (Basri Marzuki, Kotarindau, Dolo, Sigi, 7 Januari 2017)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.