Katagori LSM, Maarif Award 2016 Diraih Mosintuwu Institute Poso

0
67

JAKARTA, beritapalu.NET | Untuk katagori Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dewan juri memilih Mosintuwu Intitute yang bermarkas di Poso sebagai peraih Maarif Award 2016.

Penerima Maarif Award tahun 2016: Budiman Maliki, Mosintuwu Institute, dan Rudi Fofid. (Foto: suara.com/Dian Kusumo Hapsari]
Penerima Maarif Award tahun 2016: Budiman Maliki, Mosintuwu Institute, dan Rudi Fofid. (Foto: suara.com/Dian Kusumo Hapsari]

Mosintuwu Institute adalah satu-satunya lembaga yang meraih penghargaan itu, selain dua aktivis yakni Budiman Maliki yang juga dari Poso dan Rudi Fofid dari Ambon.

Dalam konferensi pers di salah satu stasiun TV swasta nasional belum lama ini, dewan juri menilai, Mosintuwu Institute patut mendapatkan penghargaan itu karena mampu mentransformasikan kekuatan perempuan menjadi gerakan pembaruan di Poso.

“Mosintuwu adalah bukti bahwa perempuan-perempuan penyintas konflik Poso mampu menjembatani konflik, mengurai dendam dan memahami perbedaan untuk kemudian bersama membangun Tanah Poso melalui desa,” kata anggota dewan Juri, Endy Bayuni.

Institut  Mosintuwu adalah organisasi masyarakat akar rumput yang anggotanya terdiri dari para survivor konflik Poso. Nama Mosintuwu diambil dari bahasa Pamona (salah satu suku di Poso) yang berarti Bekerja Bersama-sama. Visi perjuangan Institut Mosintuwu adalah rakyat berdaulat atas hak ekonomi, sosial, budaya dan hak sipil politik. Misi Institut Mosintuwu adalah: memperkuat wacana dan perjuangan kedaulatan rakyat atas hak  ekonomi, sosial, budaya, dan hak sipil politik dalam konteks masyarakat konflik dan pasca konflik.

Maarif Institute adalah sebuah lembaga yang memberikan penghargaan kepada sosok teladan masyarakat dan menginspirasi perubahan sosial. Penghargaan diberikan kepada dua aktivis dan satu lembaga swadaya masyarakat setiap tahunnya.

Kali ini adalah penghargaan yang keenam kalinya setelah sebelumnya juga dilakukan hal yang sama pada 2007, 2008, 2010, 2012 dan 2014.

Proses seleksi penerima penghargaan dilakukan selama empat bulan sejak Januari 2016. Mereka yang menerima Maarif Award dinilai berdasarkan dua kriteria, yakni prespektif berdasarkan gender dan perdamaian.

Penerima Maarif Award pada tahun 2007 yaitu Pdt Jack Manuputty dari Ambon, Arianto Sangaji dari Poso. Pada tahun 2008 Tgh Hasanain juaini dari Lombok, M. Tafsir dari Semarang, Cecilia Yuliani Hendayani dari Blitar. Tahun 2010 S. Ali Habsyi dari Magelang, tahun 2012 Ahmad Bahruddin dari Salatiga, Romo Carolus dari Cilacap. Dan tahun 2014 Maril Koto dari Sumatera Barat. (afd/dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.