Catatan Kaki Sapulidi Menginspirasi Anak Negeri

0
69

PEKERJAAN sosial adalah bagian dari realita hidup yang lahir dari sebuah pendekatan emosional yang dilakukan atas dasar etika dan moralitas. Dan seorang pekerja sosial harus menjadikan aktivitasnya sebagai seni profesi yang berdasar pada sebuah idealisme agar dalam pelaksaan dan realisasi kegiatannya dapat tercipta suatu kebersamaan yang harmonis antara pelaku dan penerima manfaat.

Ilustrasi
Ilustrasi

Demikian definisi pekerjaan sosial menurut Arie Belougi, pendiri Solidaritas Anak pedalaman Untuk Lingkungan dan Pendidikan (SAPULIDI)

Di era komunikasi dan informasi saat ini sudah sangat jarang kita temui orang yang secara individu maupun bagian dari kelompok masyarakat yang mau bekerja dengan ikhlas untuk kepentingan orang lain terlebih kepada kepentingan bangsa dan negara. Sebuah kenyataan dapat kita lihat bahwa begitu banyak orang, kelompok atau golongan tertentu yang mengatasnamakan diri sebagi pekerja sosial namun dapat dihitung jari yang mencerminkan jati dri mereka sebagai pekerja sosial sejati.

Kenyataan lain dapat kita lihat pada Solidaritas Anak Pedalaman Untulk Lingkungan dan Pendidikan (SAPULIDI) atau lebih dikenal dengan Komunitas Sapulidi, komunitas sosial yang berdiri pada tanggal 1 januari 1990 ini, sejak awal berdirinya hingga saat ini terus memberi darma bhaktinya kepada ibu pertiwi.

Komunitas Sapulidi didirikan oleh Arie Belougi, seorang remaja kampung yang tinggal bersama keluarganya di sebuah dusun kecil di pinggir Danau Towuti, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Arie Belougi memperkenalkan komunitas tersebut kepada rekan-rekannya sesama remaja kampung yang secara bersama-sama melewati pergantian tahun 1989 ke tahun 1990 di Pulau Loeha, Danau towuti.

Sapulidi pada awlnya lebih menyerupai perkumpulan remaja di pedalaman Towuti, namun kemudian menyebar ke sejumlah daerah pedalaman di Indonesia dan telah banyak menginspirasi anak muda untuk beraktifitas di bidang sosial dan menjadi fasilitator pemberdayaan masyarakat di daerah pelosok.

Sejumlah kegiatan kemanusiaan telah dilakukan anggota komunitas tersebut di era tahun 90-an hingga saat ini.  Saat bergulirnya isu jajak pendapat di Timor Timur, Arie Belougi, pendiri komunitas tersebut membangun hubungan emosional dengan sejumlah milisi pro-integrasi dengan Indonesia, ia memimpin anggota Komunitas Sapulidi dari pedalaman Sulawesi selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara untuk berangkat ke Timor Timur

Seluruh anggota komunitas tersebut  terus menyalakan semangat nasionalisme dan solidaritas kebangsaan kepada kelompok pro-integrasi dengan Indonesia. Ketika kawanan pengungsi mulai memadati perbatasan Timor Barat, Komunitas Sapulii bertindak selaku menjadi fasilitator bantuan logistik dari saudagar asal Sulawesi dan bergabung dengan relawan Perserikatan Bangsa-Bangsa dari United Nations Volunteers (UNV) dan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Dalam suasana darurat, Arie Belougi bersama sejumlah milisi pro-integrasi dan sempat dikabarkan hilang menjelang pelaksanaan referendum 1999.

Komunitas Sapulidi meninggalkan Atambua pertengahan Desember 1999 dan melanjutkan kegiatan sosialnya dengan mengunjungi daerah pelosok di Kepulauan Rote, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Banggai di Sulawesi Tengah serta Kepulauan Sangihe, di Sulawesi Utara, dalam rangka sosialisasi tentang manfaat cinta lingkungan dengan memperkenalkan program Bumi hijau mandiri dan Indonesia Back to Nature. Dalam kegiatan tersebut, Komunitas Sapulidi melewatkan pergantian abad ke 20 ke abad 21 (Tahun 1999 ke tahun 2000) di bawah garis khatulistiwa, tepatnya di Desa Tinombo, Parigi Moutong yang kemudian dikenal dengan “Dua Abad Sapulidi di Garis Khatulistiwa”. Periistiwa langka ini menjadi momen bersejarah bagi pekerja sosial di Indonesia.

Anggota Komunitas Sapulidi terus berjalan dan berjalan. Pada tahun 2000, Arie Belougi, pendiri komunitas tersebut secara resmi memperkenalkan konsep pemberdayaan kepada masyarakat beertajuk Bumi Hijau Mandiri kepada publik. Inti dari pelaksanaan konsep tersebut adalah “Menjadikan lahan non-produktif menjadi Hutan Tanaman Industri yang berbasis kemandirian dan kearifan lokal, serta dalam realisasinya diharapkan terciptanya lingkungan yang sehat. produktif dan mandiri berlandaskan kesadaran untuk menjadikan alam dan lingkungan sebagai sahabat kehidupan dari generasi ke generasi”

Seluruh anggota Komunitas Sapulidi pro-aktif sosialisasikan konsep tersebut, adan atas kerja kerja keras yang mereka lakukan  akhirnya pola kegiatan tersebut bisa booming di Indonesia dan menjadi sebuah bahan inspirasi buat sejumlah lembaga dan oraganisasi nirlaba melakukan kegiatan pemberdayaan kepada masyarakat dengan menggunakan pola yang serupa. Kegiatan tersebut kemudian lebih populer pada tahun 2005, Sejumlah perusahaan publik melakukan kegiatannya dengan menyewa lahan milik masyarakat untuk melakukan budidaya tanaman industri dan juga mengajak masyarakat untuk mengelola kegiatan tersebut secara bersa-sama.

Pada bualn April 2005,  Arie Belougi mencetuskan gagasan tentang program Indonesia Back to Nature sebagai solusi alternatif dalam mengatasi kerusakan hutan di Indonesia. Program tersebut bertajuk Dari Alam, Oleh Alam dan Untuk Alam, yang pelaksanaanya tidak membebani pemerintah serta dilakukan secara bertahap. Arie Belougi sosialisasikan program tersebut dengan melibatkan anak pedalaman di bawah bendera Solidaritas Anak Pedalaman Untuk lingkungan dan Pendidikan.

Anggota Komunitas Sapulidi sosialisasikan Indonesia Back to Nature selama tahun dan telah mendapat dukungan dari sejumlah lembaga dan organisasi nirlaba, baik di dalam maupun di luar negeri, dan kegiata tersebut sudah berjalan sejak bulan Maret 2015.

Pilot Project Indonesia Back to Nature terletak di Poso, bagian Timur Sulawsi Tengah dan dilaksanakan oleh Riu Mamba International di atas lahan seluas 10. 000 hektar dari total 34.000 hektar yang sudah mendapat izin dari pemerintah, dan proyek ini rencananya akan berlanjut di sejumlah daerah yang mengalami kerusakan hutan di Indonesia.

Indonesia Back to Nature adalah hal sederhana namun menginpirasi serta memiliki multi manfaat, disamping menyediakan banyak lapangan kerja juga dapat menjaga keseimbangan ekosistem untuk terus bersinergi dengan alam, dan manfaat paling utama adalah membantu mengembalikan fungsi hutan Indonesia sebagai paru-paru dunia. Pelaksanannya bukan berdasar dari suatu hasil riset atau pendekatan secara ilmiah tapi merupakan bagian dari revolusi moral anak pedalaman untuk ikut berpartisipasi membantu pemerintah mengatasi masalah kerusakan hutan di Indonesia.

Sejumlah rangkaian catatan kaki Komunitas Sapulidi dapat dijadikan sebagai bahan inspirasi buat anak-anak muda jaman sekarang untuk terus berjalan dan berjalan, belajar dan belajar serta berbuat serta dan berbuat serta berani mengambil inisiatif sendiri dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat bermanfaat. (Andi Faisal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.