Sindrom Orang “Pantoa”

0
165

BUKAN mitos, tapi fakta. Memang ada yang namanya sindrom sok tahu atau dalam bahasa Kaili (Sulawesi Tengah) disebut “pantoa”.

Nama ilmiahnya efek Dunning-Kruger. Sesuai nama penemunya, David Dunning dan Justin Kruger dari Cornell University.

Apa yang dimaksud dengan Dunning-Kruger Effect adalah bias kognitif dimana seorang individu yang tidak terampil mengalami superioritas ilusi. Mereka merasa kemampuan mereka jauh lebih tinggi dari yang sebenarnya. Padahal justru sebaliknya. Mereka tak sehebat itu.

Dunning dan Kruger menemukan bahwa mereka yang paling tidak kompeten di bidangnya, justru yang paling tak sadar akan ketidakmampuannya sendiri.

Ciri-ciri orang yang mengalami sindrom sok tahu adalah:

Tidak mampu mengenali ketidakmampuan sendiri

Gagal mengenali tingkat ketidakmampuan mereka

Tak mampu mengenali keahlian orang lain

Mengenali dan mengakui kurangnya keterampilan mereka setelah mendapat pelatihan untuk keterampilan tersebut

Itu mengapa, menurut PS Mag, mereka yang tak kompeten tak merasa perlu lebih hati-hati. Malah cenderung tampil paling percaya diri. Karena merasa mereka ahli di bidangnya.

Sebenarnya orang seperti ini bukannya bebal karena otak tak berisi. Justru isi kepala mereka begitu banyak tapi penuh dengan kesalahpahaman.

Pengalaman hidup yang menyesatkan, teori, fakta, intuisi, strategi, metafora, dan firasat. Semua itu dibungkus tampilan dan nuansa pengetahuan yang akurat dan berguna.

Nyatanya, tidak demikian.

Anda mungkin sering bertemu orang-orang seperti ini. Baik di lingkungan pertemanan, maupun pekerjaan.

Bagaimana kita dapat belajar mengenal kebebalan dan salah pengertian kita sendiri?

Bayangkan Anda adalah bagian dari kelompok kecil yang harus membuat keputusan tentang hal penting. Tunjuk satu orang untuk bertindak sebagai advokat setan –istilah untuk orang yang ada di posisi selalu tidak setuju.

Dengan demikian diskusi akan berkembang. Situasi mungkin jadi tak nyaman. Namun biasanya keputusan yang diambil lebih akurat dan beralasan kuat.

Jika Anda sendiri, triknya adalah jadilah advokat setan bagi diri sendiri. Tanya berulang kali apakah mungkin Anda salah, atau keadaan berubah tak sesuai yang Anda harapkan.

Cara ini mirip dengan yang dianjurkan psikolog Charles Lord, latihan ini bisa juga disebut “mempertimbangkan yang sebaliknya”.

Untuk mempraktikkan cara ini, bayangkan Anda ada di masa depan dan sudah membuat keputusan yang salah. Pertimbangkan masak-masak apa yang menyebabkan Anda terjerumus dalam kegagalan. Setelah itu mintalah nasihat pada orang yang Anda percaya. Diskusi seringkali cukup untuk menyadarkan seseorang dari kesalahpahamannya yang paling besar. (sumber: beritagar.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.