Walhi Tuding Pembukaan Lahan Sawit Penyebab Banjir di Morowali Utara

0
63

PALU – Banjir yang melanda Morowali Utara belum lama ini dan mengakibatkan kerusakan lahan pertanian dan warga terpaksa harus mengungsi, oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulteng disebut dikarenakan oleh pembukaan perkebunan lahan sawit yang luas.

Kepala Departemen Adokasi dan Kampanye EksekutifDaerah WALHI Sulawesi Tengah, Ristan dalam siaran persnya menyatakan, masalah banjir di wilayah Morowali Utara (Morut) adalah cerita lama yang terus berulang. Ironisnya, karena Pemda setempat dinilai tidak memiliki solusi jitu untuk menanganinya.

Menurutnya, banjir yang kali ini menerjang Desa Tompira, Desa Bunta, Desa Bunta trans, Desa Togo, dan Desa Moleono yang masuk dalam dua Kecamatan Petasia Timur dan Petasia Barat bukan hal baru lagi. Dalam catatan Walhi Sulteng, antara tahun 2006 hingga tahun ini banjir besar sudah menjadi langganan.

Dikatakan, ada banyak asumsi yang di bangun oleh warga mulai dari musim penghujan, hilangnya hutan daerah tangkapan hujan, hingga tidak berfungsinya saluran air (Got). Spekulasi ini sebutnya tidak mendapatkan konfirmasi dari pemerintah daerah apa penyebap banjir ini.

“Tapi menurut kami ini tidak lepas dari pembukaan lahan yang sangat luas di Morowali Utara untuk pembangunan perkebunan sawit. Beberapa lokasi bahkan itu dilakukan Daerah Aliran Sungai (DAS),” ungkap Ristan.

Salah satu contoh sebutnya adalah PT. Niaga Internusa dengan luas 17.915,00 Hektar. Anak perusahaan (Sinar Mas) yang beroprasi di Desa Tomata menggunduli hutan yang berada di dekat dengan Hulu sungai Laa.

Tidak hanya itu dibagian hilir sungai Laa satu perusahaan Atas nama PT. Agro Nusa Abadi (ANA) 19.675 Haktar anak Grup (Astra Agro Lestari (ALL). Membuat tanggul untuk membendung sepanjang lokasi perkebunan di desa Tompira, Bunta Bungintimbe, Toara dan Molino. Ini medapat banyak keluhan dari warga karena sungai itu langsung menghantam perkampungan. Namun sampai saat ini belum merespon.

Menurut Ristan ini aneh karena tidak menjadi persoalan serius bagi pemerintah daerah, malah terkesan menggampangkan bencana ini dengan sebutan bencana musiman. “Ini sangat keterlaluan!” tegasnya.

Ia menuding, banjir ini disebabkan oleh pembukaan lahan sawit yang begitu luas. Ia memaparkan data, Grup Asta Agro Lestari dengan 4 anak perusahaannya menguasai kurang lebih 98.177.00 Hektar dan Sinar Mas 61.173.53 Hektar. “Morowali Utara telah dikepung sawit dan ini sangat berbahaya terhadap lingkungan. Jika kita melihat antara rentan penguasaan tanah untuk pembangunan perkebunan sawit izin perkebunan sangat banyak terbit pada tahun 2006 itu,” bebernya.

Ristan mengaku sudah melakukan investigasi atas masalah tersebut dan pihaknya akan menyampaikan hasil tersebut ke kementerian lingkungan dan kehutanan. Selain itu akan menjadi bahan untuk melaporkan semua masalah di perkebuan sawit ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Mei mendatang.

“Hasil investigasi ini juga menjadi catatan serius kami dalam membuat laporan kepada pihak pebankan terkhusus kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melihat kembali perusahaan yang mereka biayai selama ini,” imbuhnya. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here