Pertaruhkan Hidup Untuk Selamatkan Putranya dari ISIS

0
54

Sebuah kisah seorang ayah yang mempertaruhkan hidupnya untuk bisa memboyong kembali anaknya yang masuk perangkap ISIS. Banyak pengorbanan diberikan, ancaman dan bahaya dihadapi. Berikut kisahnya yang diturunkan dalam tulisan dan disajikan beritabenar.org.


 

DIA dikenal sebagai anak yang patuh – seorang idealis dengan masa depan yang menjanjikan. Tapi semua itu berubah pada 22 Oktober 2013. Malam itu, mahasiswa kedokteran berusia 22 tahun yang saat itu sedang kuliah di Irlandia, menelepon kedua orang tuanya di Asia Tenggara dan memberitahu mereka bahwa dia telah pergi ke Suriah.

Sang anak, seperti yang dituturkan ayahnya, telah jatuh “ke dalam perangkap teroris Arab Sunni”.

Beberapa hari kemudian, sang ayah memulai pencarian untuk merebut kembali anaknya – melalui perjalanan berbahaya yang kemudian membawanya ke pusat wilayah yang diklaim oleh Negara Islam di Suriah (ISIS), namun perjalanan itu berakhir menyedihkan.

Sang ayah menceritakan kisahnya dengan syarat tidak menyebut satupun nama anggota keluarganya. Detail pribadi yang lainnya juga dirahasiakan untuk melindungi keluarga tersebut.

Sang ayah takut bahwa publikasi kisahnya akan semakin membuat keluarganya susah dan berpotensi mengakibatkan konsekuensi negatif bagi usahanya.

Namun ia ingin berbagi kisah ini karena, katanya, orang lain harus tahu tentang tragedi yang dialami keluarganya dan mungkin dapat mengambil hikmah dari kisahnya.

Koresponden untuk BeritaBenar pertama kali bertemu dengan sang ayah pada Desember 2013 di Hatay, Turki.

Dicuci Otak

Ketika sang anak kuliah di Irlandia, dia mulai membuat ibu dan ayahnya khawatir ketika dia mengungkapkan keinginannya pergi ke Timur Tengah. Menurut ayahnya, dia ingin meringankan penderitaan orang yang menderita karena perang.

“Saya menyarankan kepadanya, dengan ilmu kedokterannya, cara terbaik untuk membantu orang-orang itu adalah dengan membuka klinik dan rumah sakit. Saya juga berjanji kepadanya bahwa saya akan menyediakan dananya,” ujar sang ayah dalam wawancara eksklusif.

“Satu-satunya syarat dari saya adalah dia baru bisa memulai kerja kemanusiaan itu setelah lulus.”

Mereka sudah tidak mendengar kabar dari anak laki-laki mereka dalam beberapa hari ketika ada telepon masuk dari Suriah. Dalam waktu satu jam, sang ayah mengajukan laporan polisi kepada  pihak berwenang di negaranya.

Lalu ia  mulai melakukan riset di internet – kehebatan teknologi yang digunakan oleh kelompok-kelompok militan seperti ISIS untuk memikat pemuda dari Asia Tenggara dan berbagai penjuru dunia untuk bergabung dengan gerakan ekstremisnya.

Saat itu di bulan Oktober tahun 2013, nama ISIS belum dikenal banyak orang. Tapi telpon dari putranya itu membangkitkan kecurigaan sang ayah bahwa anaknya telah jatuh dalam cengkeraman kelompok seperti ISIS.

Dalam panggilan telepon berikutnya, ia merasakan telah ada perubahan pada anaknya dan timbul jarak antara mereka.

“Dia merahasiakan rencananya dan keberadaan yang pasti. Saya bisa dengan jelas merasakan bahwa dia berada dalam kondisi sudah dicuci otak total ketika dia berbicara dengan kami. Namun secara keseluruhan dia tetap sopan selama pembicaraan di telpon,” kata sang ayah.

Sang ayah yang juga seorang pengusaha lalu melakukan penelitian sendiri mengenai konflik di Suriah, membaca tentang berbagai macam kelompok pemberontak yang melawan rezim Bashar al-Assad.

“Saya juga segera mulai menggunakan berbagai platform media sosial, yang digunakan oleh ISIS dan kelompok-kelompok pemberontak untuk merekrut anggota kelompok baru. Saya mulai menggunakan layanan seperti Whatsapp, Telegram, WeChat, Facebook dan platform pesan yang lain – semuanya saat itu merupakan hal yang asing bagi saya,” katanya.

Melalui internet dia mulai menjalin hubungan dengan organisasi-organisasi yang ada di Suriah dan Turki, yang tidak lama kemudian akan dia minta untuk melakukan pencarian fisik bagi sang anak.

Pada November 2013, dalam percakapan telpon sang anak mengaku bahwa ia telah bergabung dengan ISIS, tapi dia tidak mengatakan di mana dia berada.

“Dia disarankan dan dipandu oleh Emirnya (pimpinannya) untuk tidak mengungkapkan keberadaan mereka, bahkan kepada orang tua. Kami bisa merasakan dengan jelas melalui telpon-teleponnya bahwa tidak saja dia sudah dicuci otaknya, tetapi juga secara ketat dipantau dan dibimbing oleh seruan-seruan dari teroris Arab,” kata sang ayah.

Ke Zona Perang

Beberapa hari kemudian, sang ayah sudah dalam perjalanan ke Suriah melalui Turki – pintu gerbang ke wilayah konflik.

Dia menyeberang perbatasan ke Suriah dari Reyhanli, sebuah kota perbatasan di provinsi Hatay di Turki.

Sebelum menyeberangi perbatasan, ia telah menghubungi organisasi yang mengangkut obat-obatan, makanan, bantuan, peralatan dan perlengkapan untuk kelompok-kelompok pemberontak di Suriah. Salah satu dari mereka setuju untuk mengizinkannya pergi bersama mereka.

“Basis saya di Babalhawa, di wilayah yang tidak terlalu jauh dari perbatasan, dan saya tinggal di sebuah gudang besar. Saya diberitahu bahwa tempat itu adalah salah satu tempat paling aman di Suriah,” kenangnya.

Ketika itu, dia bersama orang-orang yang bersenjata.

“Saya tahu saya bersama orang-orang yang baik, tapi di Suriah segala sesuatunya mungkin terjadi.”

Ketika dia pertama kali bertemu kelompok tersebut, ia membayar US $ 40.000 kepada para anggota kelompok itu untuk menutupi pengeluaran mereka selama membantu dia menemukan anaknya.

Tapi mereka akhirnya mengembalikan uang tersebut. Sang ayah kaget dan bertanya kepada pemimpin kelompok itu mengapa mereka kembalikan uang tunai tersebut.

“Dan dia mengatakan salah satu kata yang paling indah yang pernah saya dengar – ‘Anda seorang Muslim dan kita adalah Muslim. Adalah tugas kita untuk membantu Anda untuk menemukan anak Anda dan ini adalah Islam kita’,” ujar sang Ayah.

Siap Untuk yang Terburuk

Secara keseluruhan, sang ayah menghabiskan waktu sekitar lima minggu di wilayah ini – sebagian besar tinggal di wilayah perbatasan di Turki.

Selama berada di dalam wilayah Suriah, para pria bersenjata yang menjadi rekan perjalanannya memperkenalkannya sebagai “dokter relawan” kepada penduduk setempat.

Dia hanya berada di Suriah selama seminggu, tapi tidak pernah jauh dari ancaman bahaya.

Satu hari ketika mereka melintas dekat Aleppo, sebuah pesawat perang Suriah menjatuhkan bom sekitar 10 meter dari mobil mereka, cerita sang ayah.

Pada kesempatan lain, mereka berhasil lolos dari pertemuan dengan pasukan-pasukan pro-pemerintah.

Mobil mereka juga sempat mogok di jalan antara Babalhawa dan Aleppo. Situasi selanjutnya menjadi tegang. Si ayah dan beberapa pria lain jalan ke desa terdekat untuk mencari montir.

Mereka disambut oleh warga bersenjata yang menawarkan mereka makanan. Mereka juga berhasil menemukan montir, tapi perbaikan mobilnya perlu waktu lebih lama dari yang diharapkan.

“Setelah makan dan berdoa, kami minum kopi sambil menunggu mobil kami diperbaiki. Tiba-tiba muncul seorang warga dan dia berteriak bahwa tentara pemerintah Bashar sudah berada dalam jarak hanya sekitar 500 meter ” kata sang ayah.

“Pasukan itu terus semakin mendekat dan … warga desa yang bersenjata itu sudah siap untuk melawan. Mereka menawari saya pistol tapi saya menolak karena saya tidak pernah menggunakan senjata dalam hidup saya. Aku sudah siap untuk yang terburuk,” tambahnya.

Sang montir tetap memperbaiki mobil mereka dan grup itu berhasil pergi dari desa tepat pada waktunya.

Sangat Dekat tapi Sangat Jauh

Selama seminggu berada dalam wilayah konflik, si ayah bertemu dengan kelompok-kelompok yang berbeda untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin demi menemukan anaknya.

“Semua kelompok-kelompok itu yang ramah dan mengerti keinginan saya, dan mereka berjanji untuk menyerahkan anak saya jika dia berada di kamp mereka. Tetapi mereka memperingatkan bahwa itu bisa menjadi hal yang mustahil jika anak saya berada di sebuah kamp ISIS,” kata sang ayah.

Dia pergi ke berbagai kamp ISIS untuk menanyakan tentang anaknya. Dia juga mengembangkan jaringan informan lokalnya sendiri yang dia bayar untuk memberikannya informasi intelijen mengenai keberadaan anaknya.

Tidak lama kemudian, intelijen yang dikumpulkan oleh jaringan ini memberikan terobosan baru mengenai bukti yang mengarah pada anaknya bahwa dia ternyata berbasis di kamp ISIS untuk para kombatan dari Eropa di Dar Ta Izzah.

“Saya telah menjelajahi tujuh kamp ISIS yang berbeda dengan koneksi lokal saya, dan kami menggunakan pendekatan yang sopan,” kata sang ayah.

“Saya masih ingat dengan jelas selama kunjungan kami ke kamp Eropa ISIS di Dar Ta Izzah, saya diberitahu untuk tinggal di dalam mobil dan mereka meninggalkan semua senjata mereka di dalam mobil,” katanya.

Pimpinan kamp menolak untuk mengatakan apakah pemuda itu ada di sana, dengan alasan mereka tidak diizinkan untuk memberikan informasi tersebut.

“Saya melihat situasi wilayah sekelilingnya benar-benar cocok dengan daerah yang anak saya jelaskan dalam percakapan-percakapan kami. Dalam hati saya benar-benar merasa yakin itu adalah kampnya.

“Bahkan kepala konvoi menegaskan kembali bahwa anak saya ada di kamp itu, berdasarkan pengamatannya di kamp. Begitu dekat, namun begitu jauh,” kata sang ayah dengan suara yang tersedak.

Kebisuan

Sepanjang perjalanannya, sang ayah terus berhubungan dengan anaknya tanpa mengungkapkan keberadaannya sendiri. Tapi satu hari, sang pengusaha mengaku pada anaknya bahwa dia berada di Suriah untuk mencari dirinya.

Dan kebetulan, mulai akhir Desember 2013, komunikasi di antara mereka sudah semakin berkurang.

Karena tidak berhasil menemukan anaknya, sang pengusaha menghentikan pencariannya dan kembali ke rumah pada bulan Januari 2014. Namun ia terus menjalin berhubungan dengan jaringan informannya.

Menurut informasi intelijen mereka, unit ISIS dimana anaknya bergabung sudah pindah ke wilayah Irak.

“Telepon darinya terus berkurang dan saya diberitahu bahwa telpon genggamnya sudah diambil oleh Emirnya,” kata dia.

Anaknya berhenti menelepon sama sekali pada bulan April 2014.

Pada bulan Agustus itu, lima hari sebelum akhir Ramadhan, salah satu informannya memberitahunya bahwa anaknya sudah terbunuh empat bulan yang lalu dalam bentrokan di dekat Mosul di Irak.

Informan ini, istri seorang anggota ISIS, juga mengatakan kepada si ayah bahwa kelompok ekstrimis merekrut anaknya untuk berada di garis depan.

“Saya tahu informasi tersebut benar adanya dan akurat karena tidak ada kontak lagi sejak April dan sampai hari ini. Saya percaya sumber saya itu karena dia bilang dia telah menahan informasi ini terlalu lama dan karenanya dia merasa bersalah,” kata sang ayah.

Tidak ada negara yang memasukkan nama si pemuda di daftar orang-orang yang tewas dalam konflik di Suriah dan Irak.

Ketika dihubungi, pemerintah Irak tidak bisa mengkonfirmasi kematian tersebut.

Sang ayah mengatakan dia tidak kenal dengan keluarga lain yang anak-anaknya telah lenyap di Irak atau Suriah, nasib mereka tidak pernah dikonfirmasi secara resmi.

“Ini seperti sebuah bencana … Dia yang menjadi motivasi bagi saya selama ini, dan kemudian hal ini terjadi. Anda bisa membayangkan bagaimana rasanya semua ini bagi kita semua,”katanya sambil menangis.

Selama Idul Fitri di 2014, sang ayah menyelenggarakan doa dan pengajian bersama anggota keluarga di kampung halamannya untuk almarhum anaknya. (beritabenar.org)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.