Total Solar Eclips Ritual @ Matantimali

0
150

[mediagrid cat=”1644″ title_under=”1″ search=”1″]

SERIBUAN warga lokal dan asing membaur di pegunungan Matantimali yang berada sekitar 1.500 mdpl. Mereka datang tidak sekadar untuk menyaksikan gerhana matahari total dari tempat itu, tetapi juga menyaksikan berbagai ritual yang dipentaskan dalam kegiatan bertajuk “Sigi Sacred Fastival”.

Di saat matahari dan bulan akan saling beradu, sedikitnya tiga ritual adat dari tiga suku tertua dunia melakukan tari ritual. Ketiganya adalah Suku Da’a mewakili etnis Kaili, suku Toraja dengan tari Manimbong dan tari Udek dari etnis Dayak Kalimantan Timur.

Warga dua kali terpukau, pertama oleh ritual itu dan kedua adalah fenomena gerhana matahari total yang kejadiannya sangat langka itu. Tak sedikit dari warga yang menyaksikan keduanya terharu dan takjub.

Langit yang berubah sedikit menguning ketika gerhana matahari total itu akan memuncak, lalu perubahan suhu udara menjadis ejuk dan kemudian gelap.

“Waowww….” celetuk seorang turis asal Jepang terkesima. “Allahu Akbar,” teriak seorang warga dengan pemandangan hebat itu.

Dua warga Jepang terlihat saling berangkulan melihat kejadian itu. Mereka sesenggukan akan kehebatan alam yang merindingkan bulu kuduk.

Bagi warga Jepang, pengalaman menyaksikan gerhana matahari total adalah hal yang sangat luar biasa. Baginya, matahari adalah dewa dan fenomena alam ini semakin menasbihkan kekuatannya.

Hampir semua warga yang di lereng tempat olahraga paralayang itu mengalami pengalaman batin yang luar biasa. Seorang seniman asal Senegal yang juga hadir di tempat itu bahkan tak bisa berkata-kata lagi. Mulutnya terkatup rapat sesaat matahari menampakkan kembali cahayanya. “Amazing..” sebutnya.

Meskipun untuk menjangkau pengunungan Matantimali cukup membutuhkan nyali yang besar karena jalan sempit dan sedikit rusak, namun sekitar seribuan warga bersama turis asing tetap mendatangi tempat itu.

Sajian view yang indah dengan Kota Palu yang berada di bawahnya ditambah dengan kesejukan udaranya menjadi alasan yang utama.

“Ini adalah tempat paling ideal untuk menyaksikan gerhana matahari total. Kita bisa melihat seperti apa Palu yang di bawah ketika gerhana itu tiba,” kata Andi, salahs eorang warga yang sengaja datang ke Matantimali untuk melihat langsung fenomena alam langka itu.

Ia puas dan bangga menjadi saksi sejarah akan penampakan gerhana matahari yang dapat disaksikan dengan manis dan indah dari tempat tersebut.

“Ini bisa menjadi bahan cerita kepada anak cucu kita mendatang bahwa gerhana matahari pernah lewat di Palu dan sangat menkajubkan,” kata seorang warga Jepang lainnya.

Sementara itu, Franki Raden, inisiator dan pelaksana festival ritual itu menyatakan, gerhana matahari total adalah peristiwa sakral terutama bagi suku-suku tertua yang ada di bumi ini.

“Saya mencoba menghidupkan kembali tradisi ribuan tahun lalu yang ada pada masyarakat kita. Ini juga menjadi kesempatan untuk mempromosikan kekhasan budaya dan tradisi kita kepada dunia,” kata Franki. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.