Memugar Kehidupan di Toro – Kulawi

0
79
Dua bocah dari komunitas adat Toro berpose di depan rumah adat Lobo. Keduanya menjadi simbolisasi harmonisasi, toleransi bagi masyarakatnya.
Dua bocah dari komunitas adat Toro berpose di depan rumah adat Lobo. Keduanya menjadi simbolisasi harmonisasi, toleransi bagi masyarakatnya.

SIANG itu cukup terik, tapi warga tetap berkerumun di sekitar rumah adat Lobo yang baru saja dipugar. Kegembiraan terlihat di rumah adat itu dengan jumbai-jumbai janur kuning yang menghias di setiap sisinya. Lantunan musik bambu tak henti-hentinya terdengar. Seekor kerbau hitam pun disembelih untuk menandai syukur tiada tara atas kembalinya Lobo yang asli. Rumah adat yang diharapkan memberi pencerahan kembali akan keapikan hidup.

Perempuan Toro menyiapkan santap siang yang dikemas dalam dulang (baki) yang ditutup dengan daun pisang. Penyajian itu menjadi ciri khas komunitas adat Toro.
Perempuan Toro menyiapkan santap siang yang dikemas dalam dulang (baki) yang ditutup dengan daun pisang. Penyajian itu menjadi ciri khas komunitas adat Toro.
Para tetua adat menikmati santap siangnya secara bersama-sama. Menunya terdiri dari nasi putih dan daging kerbau yang baru saja disembelih.
Para tetua adat menikmati santap siangnya secara bersama-sama. Menunya terdiri dari nasi putih dan daging kerbau yang baru saja disembelih.

Tetua adat mengambil tempat di pinggir tengah, lalu berjejer di sisi kiri dan kanan para pemuka adat yang berada di level bawahnya. Mereka mewakili seluruh komunitas adat yang berdiam di dataran Toro, sebuah wilayah yang masih menyimpan keunikan tertua penduduk asli Sulawesi Tengah beretnis Moma.

Nasi putih dihampar di dulang (baki) yang sudah dialas dengan daun pisang. Lauknya yang berupa daging kerbau di tempatkan dalam wadah yang terbuat dari tempurung kelapa.
Nasi putih dihampar di dulang (baki) yang sudah dialas dengan daun pisang. Lauknya yang berupa daging kerbau di tempatkan dalam wadah yang terbuat dari tempurung kelapa.
Usai santap siang bersama, anak-anak mengambil bagian untuk merapikan kembali rumah adat.
Usai santap siang bersama, anak-anak mengambil bagian untuk merapikan kembali rumah adat.

Tetua adat memberikan pesan-pesan dalam bahasa Kaili khas etnis Moma. Pesan itu sarat dengan kebajikan hidup, bukan hanya dalam kaitan hubungan sosial terhadap sesama manusia, tetapi juga dalam hubungan dengan lingkungan. Hidup adalah anugerah yang diberikan Tuhan melalui alam, dan sepantasnyalah jika segala tindak tanduk mencerminkan rasa terima kasih kepada Tuhan dan alam.

Musik bambu terus mengiringi perhelatan di rumah adat Lobo
Musik bambu terus mengiringi perhelatan di rumah adat Lobo

Lobo menjadi lambang penjagaan integritas hidup, dia menjadi tempat bermufakat atas semua persoalan yang tumbuh dan berkembang bagi pemukim di sekitarnya. Di dalamnya tercermin kearifan lokal yang terus terjaga. Dengan harapan baru, mereka meletupkannya dengan syukur, santap siang bersama dan menari sakral raego sebagai wujud terima kasih. ***

Raego, sebuah tarian sakral yang digelar pada setiap penyelenggaraan adat yang penting.
Raego, sebuah tarian sakral yang digelar pada setiap penyelenggaraan adat yang penting.

Foto dan naskah: Basri Marzuki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here